#beritalampung#beritalampungterkini#sungaimusi#pendangkalan#sedimentasi

Pendangkalan Alur Pelayaran Kapal di Sungai Musi Capai 13 Kilometer

Pendangkalan Alur Pelayaran Kapal di Sungai Musi Capai 13 Kilometer
Sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu. Antara/Nova Wahyudi


Palembang (Lampost.co) -- Pendangkalan terparah Sungai Musi membentang sepanjang kurang lebih 13 kilometer yang berada pada kawasan ambang luar alur pelayaran kapal. Sungai Musi memiliki panjang alur pelayaran kapal mencapai 56,3 NM (Nautical Miles) atau 104,242 kilometer.

Kepala Pengamatan Laut Kantor Distrik Navigasi Klas 1 Palembang Bambang Setiawan, mengatakan panjang alur Sungai Musi tersebut terhitung mulai dari ambang luar Selat Bangka hingga ke Pelabuhan Boombaru, Palembang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perhubungan RI Nomor KP-482 Tahun 2016.

Baca juga: Presidensi G20 Dorong Penguatan Ekonomi Nasional dan Global 

Menurut dia, dari panjang alur itu diketahui pendangkalan terparah berada di area wilayah Tanjung Buyut, Kabupaten Banyuasin, hingga Tanjung Carat, Sungsang, Kabupaten Banyuasin, yang mengarah ke Pelabuhan Boom Baru,Palembang.

“Jadi di area ini panjang bentang pendangkalannya mencapai 13 kilometer. Ketimpangan kedalaman antara permukaan air ke dasar sungai mulai dari 20—22 meter menjadi hanya 3—2 meter saja,” kata dia, Rabu, 9 November 2022.

Dia menjelaskan kondisi pendangkalan tersebut diketahui merujuk hasil pengukuran digital pada peta Sumatra-Pantai Timur Sungai Musi, Ambang Luar hingga Pulo Karto, Palembang, buatan Hidro-Oceanografi TNI Angkatan Laut, tahun 2008.

“Sejauh ini belum ada pengukuran langsung, tapi peta yang kami gunakan inilah yang menjadi acuan dan 2008 masih relevan sampai saat ini,” ujarnya.

Bambang menyatakan kondisi pendangkalan sudah berlangsung sejak lama dan itu terjadi disebabkan sedimentasi. Sebab, area tersebut merupakan pertemuan antara arus Sungai Musi dan arus laut Selat Bangka.

Pendangkalan itu tidak bisa dibiarkan terus-menerus karena dampaknya menghambat kelancaran lalu lintas pelayaran kapal dengan segala macam kepentingannya yang melintasi perairan Sungai Musi. “Karena dampak pendangkalan ini, kapal yang ukuran drafnya (lambung) di atas 6 meter tidak bisa melintas masuk ke Palembang. Misalnya seperti kapal PT Pertamina, PT Pusri yang besar draftnya sekitar 9 meter, ini kan merugikankarena komoditas yang diangkut untuk kebutuhan masyarakat sampai terhambat,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Distrik Navigasi Kelas 1 Palembang merekomendasikan ke pemerintah untuk melakukan pengerukan di area yang mengalami pendangkalan.

“Rekomendasi pengerukan ini sudah sampai ke Direktorat Kepelabuhanan Kementerian Perhubungan karena ini ranahnya mereka. Mudah-mudahan ada solusi yang mana informasi terakhir pemerintah kekurangan dana sehingga belum bisa direalisasikan,” ujarnya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait