Pantaiwisata

Penantian Nakhoda Perahu di Pantai Pasir Putih

Penantian Nakhoda Perahu di Pantai Pasir Putih
Suasana pantai pasir putih di Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan, di musim liburan. Lampost /Perdhana


Kalianda (lampost.co) - - Jejeran perahu motor tertambat seutas tali tambang di bibir pantai Pasir Putih, Desa Rangai Tritunggal, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan. Sementara pengunjung asik berenang di sela-selanya. 

Sejak pagi hari, awan gelap menyelimuti wilayah wisata yang berbatasan langsung dengan Bandar Lampung itu. Perahu motor yang terbuat dari kayu dengan ukuran 10 meter x 2 meter dengan kursi tersusun berbaris menyekat, terombang ambing dibibir pantai. 

Dimasa keemasannya dulu sekitar awal 1990 sampai 2000-an, Pantai Pasir Putih menjadi primadona masyarakat Lampung hingga luar daerah,l. Rasanya belum liburan, jika tidak kesana terlebih dahulu. 

Sangking ramainya, saat libur lebaran dan tahun baru, arus lalu lintas di Jalan Lintas Sumatera macet total hingga beberapa kilometer. Bahkan, membuat petugas kewalahan mengurai kendaraan yang datang silih berganti. 

Paling banyak menyedot pengunjung, pengelola pantai Pasir Putih menyiapkan panggung orkes dangdut dan menghadirkan artis top ibukota. Selain itu, pengunjung juga bisa menuju pulau Condong yang hanya berjarak sekitar 1,5 mil dari pantai. Dengan membayar Rp25 ribu/orang, pengunjung diantar menggunakan perahu mesin milik nelayan sekitar. 

Namun kini, meski musim libur, suasana berbeda tampak dibanding sebelumnya itu. Pandemi covid-19 yang berdampak pada semua lini kehidupan masyarakat turut membuat posisi perahu motor yang ditambat masih sama dengan formasi di pagi hari.

Saat ini, jumlah pengunjung turun drastis yang berakibat menurunnya pendapatan pelaku usaha kecil di pantai. "Baru tiga hari ini, pengunjung mulai berdatangan," kata Romli (60), nahkoda perahu motor 3 Putra, Minggu, 27 Desember 2020. 

Meningkatnya jumlah pengunjung pantai, tidak lantas berdampak dengan usaha yang digelutinya sejak puluhan tahun silam itu berkembang. "Sebab, pengunjung belum tentu mau menyebrang pulau. Saya belum dapat tumpangan dari kemarin," katanya. 

Kapasitas perahu motor yang dimilikinya 15 orang sekali angkut menuju pulau Condong dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit. "Tiga hari yang lalu ada lima orang tetap saya angkut, dari pada ngelamun disini," ujar dia.

Kakek dua cucu ini mengaku akan beralih profesi di setiap musim liburan tiba. Dengan menjadi nahkoda angkutan laut menuju pulau Condong. "Kami di hari biasa tetap melaut dengan menangkap ikan," kata dia. 

Hal itu juga dirasakan Ali (45), pemilik perahu mesin Wong Kito. Menurutnya, suasana saat ini berbeda dengan liburan beberapa tahun silam atau dimasa sebelum pandemi Covid. Sebab, biasanya ratusan pengunjung liburan ke pulau Condong. "Pada waktu itu pendapatan kami sehari minimal setengah juta," kata dia.

Di waktu normal, pengunjung yang diantar ke pulau Condong ditinggalkannya, karena harus menjemput penumpang lain di pantai Pasir Putih. "Kalau dulu, janjian minta dijemput jam berapa, karena jemput yang lain, sekarang ditungguin biar irit bensin," kata dia. 

Ia bersama puluhan rekannya tetap sabar dan optimis menanti penumpang. Walaupun suasana liburan sudah berbeda rasa. "Kami tetap sabar menanti, karena kondisi cuaca sekarang ini kurang baik juga untuk mencari ikan," katanya. 

Sama halnya dengan seluruh umat manusia, pelaku usaha perahu motor di pantai Pasir Putih berharap pandemi Covid-19 segera berakhir di muka bumi ini. "Kami sangat berharap kehidupan kembali normal," kata dia.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait