#lampung#pringsewu#bbi

Penambahan Tenaga Teknis dan Sumur Bor Diharapkan Optimalkan BBI

Penambahan Tenaga Teknis dan Sumur Bor Diharapkan Optimalkan BBI
Komisi II DPRD Pringsewu saat hearing dengan Dinas Perikanan setempat, Senin, 28 Oktober 2019. Lampost.co/Widodo


Pringsewu (Lampost.co) -- Dalam upaya memaksimalkan pemanfaatan balai benih ikan (BBI) akan ada penambahan tenaga teknis perikanan dan empat titik sumur bor.  Hal itu menjadi kesepakatan hearing antara Komisi 2 DPRD Pringsewu dan Dinas Perikanan, Senin, 28 Oktober 2019.

Hearing yang dipimpin Maulana M Lahudin dihadiri anggota Komisi 2, yakni Anton Subagyo, Aminallah Adisyanyo, Leswanda, Mustopa, dan Mira Anita. Sedangkan dari Dinas Perikanan dihadiri Kadis Perikanan M Yusuf, Kabid Perikanan Budi Daya Hairul Fallah, dan Kabid Pascapanen Solihin, dan staf.

Banyak pertanyaan dari anggota komisi terkait manfaat BBI, output diadakannya sosialisasi gemar makan ikan, dan program perikanan terkait pemenuhan kebutuhan benih ikan.

Anton Subagyo, misalnya yang sempat kecewa dengan BBI karena tidak berfungsi. Sebab, BBI merupakan barometer keberhasilan Dinas Perikanan.

Kepala Dinas Perikanan M Yusuf mengakui memang pada 2016--2017 BBI vakum dan rusak. Tetapi pada awal 2019 BBI  sudah mulai diperbaiki.

Dia menjelaskan dengan adanya UPT BBI sudah mulai ada kemajuan meskipun masih banyak kekurangan. Meski pun diakui, gedung pertemuan kurang terawat, laboratorium juga diakuinya kurang terawat. Peralatan juga  kumuh karena tidak ada tempat khusus.

“Namun, ke depan akan terus diperbaiki, seiring dengan diusulkannya penambahan empat titik sumur bor dan penambahan 10 tenaga teknis,” katanya.

Dia menyatakan BBI bukan untuk melayani ikan-ikan sakit kemudian diobati, justru tempat tersebut harus steril dari orang-orang yang tidak berkepentingan.

Pada tahun anggaran 2019 dibangun 26 petak kolam dan 50 persen kondisi baik. BBI sudah lebih optimal dengan dibentuknya UPT sehingga target PAD Rp75 juta/tahun siap direalisasikan.

Dia menambahkan program Gemar Makan Ikan adalah program pasional dan tahun ini akan bekerja sama dengan Bunda PAUD dan  PKK. “Konsumsi makan ikan di Pringsewu masih rendah. Ke depan akan ada program anak PAUD makan ikan setiap Jumat,” katanya.

Kemudian terkait pasar ikan bisa saja direalisasikan, tetapi jangan jauh-jauh dari pasar umum. "Kalau jauh dari pasar umum dipastikan sepi," ujarnya.

BBI milik Dinas Perikanan yang berada di Tulungagung, Kecamatan Gadingrejo, memiliki fungsi memproduksi calon induk, memproduksi induk sekaligus memproduksi benih unggul untuk keperluan unit pembenihan ikan rakyat (UPR) dan restoking perairan umum. Operasional BBI Rp53 juta/tahun. Di Pringsewu terdapat 319 kelompok perikanan dari berbagai bidang usaha.

Kabid Budi Daya dan Perikanan Hairul Fallah menyatakan fungsi BBI bukan untuk memenuhi  kebutuhan benih. Tetapi dinas hanya membuka akses dan yang bertugas memenuhi benih adalah para unit pembenihan rakyat (UPR).

Menurut dia, yang diproduksi BBI adalah induk parenstok (PS). Benih dari untuk PS tersebut tidak boleh dijadikan induk lagi agar tidak merusak keturunannya.

“Sedangkan laboratorium yang ada di BBI sebagai hatchery indoor artinya ruang pembenihan bagi ikan-ikan yang sulit dipindahkan secara alami, seperti patin dan baung,” ujarnya.

BB) untuk saat ini baru mampu memprodukai 800 ribu ekor benih ikan. Jumlah itu hanya cukup untuk dua kelompok tani.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait