#hargapangan#beritalampung

Pemprov Lampung Coba Rem Pelemahan Harga Telur

Pemprov Lampung Coba Rem Pelemahan Harga Telur
Peternak ayam petelur di Desa Krawangsari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Febi Herumanika/Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah-langkah untuk menyikapi harga telur yang turun di tingkat peternak sampai ke pedagang. Hal itu juga diperparah dengan sepinya pembeli dampak perekonomian yang belum stabil.

Harga telur di tingkat produsen kini Rp18.000 sampai Rp19.000 per kilogram. Di tingkat konsumen harga telur antara Rp20.000 hingga Rp24.000 per kg.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung, Lili Mawarti, mengatakan penyebab harga telur lemah karena distribusi cukup banyak. Di lain sisi konsumsi cenderung tetap.

Kedua, adanya kebijakan PPKM dan kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil. Ketiga, harga pakan ayam (jagung) yang tinggi.

Untuk itu, pihaknya mengambil langkah dengan memfasilitasi penyedia pakan ternak dan intervensi di tingkat hilir agar bisa normal (sesuai harga acuan) dengan bekerja sama Dinas Perdagangan.

Kemudian, penyerapan melalui Bansos berupa barang (bukan uang) tetapi komoditas telurnya. Keempat, dilakukan pembelian dengan harga normal melalui online.

"Rencananya ada pertemuan untuk pembahasan terkait hal ini dengan pemerintah daerah dan PPN Pinsar Petelur Lampung dalam waktu dekat," katanya kepada Lampost.co, Rabu, 15 September 2021.

Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung, Jenny Soelistiani, mengatakan usaha telur di Lampung sedang memprihatinkan. Adanya pandemi membuat produksi telur yang surplus terserap pembeli.

Sementara sumber pakan mahal seperti jagung yang biasanya Rp4.000 menjadi Rp6.000. Kemudian kedelai dari Rp.6.000, sekarang Rp8.000. Dengan kondisi itu harga pokok penjualan (HPP) peternak pun mencapai diangka Rp22.000.

"Harga telur di Lampung Rp18.000, tetapi harga ril di peternak Rp16.000 sampai Rp.17.000. Sampai dipasaran harganya Rp20.000 bahkan ada dibawahnya. Mulai dari peternak sampai pedagang telur mengeluh semua," katanya.

Menurut dia, produksi telur di Lampung dalam sehari bisa 300 ton dan laku di pasar di bawah 200 ton. Untuk mensiasatinya, 100 ton telur dikirim ke Jakarta setiap hari. Penjualan itu cukup merugikan, tetapi hal itu perlu dilakukan agar telur tidak membusuk.

"Sekarang penjualan sepi dan hajatan juga sepi. Kami ingin harga pakan ditekan dan pemerintah serta semua pihak mengampanyekan gerakan makan telur," katanya. 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait