#peternakan#PMK

Pemprov Klaim Penyebaran PMK di Lampung Rendah

Pemprov Klaim Penyebaran PMK di Lampung Rendah
Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian, Kusnardi. Lampost.co/Atika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pemerintah Provinsi Lampung mengatakan kasus penyakit mulut kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak di Lampung masih relatif rendah. Sebab dari 47 ekor sapi yang dinyatakan suspect atau terindikasi PMK, sebanyak 30 ekor negatif, 16 ekor positif, dan satu ekor mati .


"Persentasenya dibandingkan populasi ternak di Lampung masih kecil karena nilainya di Lampung sebanyak 891.516 ekor. Tapi kita tetap waspada karena ini penyakit yang penyebarannya cukup cepat untuk sesama hewan ternak," kata Asisten II Bidang Pembangunan dan Perekonomian, Kusnardi dalam rapat pembahasan PMK di ruang Abung, Kamis, 19 Mei 2022.

Sehingga pihaknya terus bersinergi dalam penanganan kasus PMK yang terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Lampung. Dimana sejumlah langkah dilakukan salah satunya adalah koordinasi masif.

"Upaya mengatasi PMK salah satunya di tingkat Provinsi sudah membentuk satgas dalam penanggulangan penyakit PMK ini kita libatkan komponen terkait. Kita juga mendorong kawan-kawan kabupaten dan kota untuk membentuk tim yang sama," katanya.

Ia mengatakan, bagi kabupaten yang sudah ada sapi nya terjangkit PMK, Pemprov mengimbau agar lakukan isolasi dan lebih baik lakukan dukungan terhadap oeternak yang rugi akibat sapinya terjangkit PMK.

"Seperti yang sudah terkena atau suspect bisa disembelih oleh pemerintah agar tidak terjadi penyebaran berlajut. Pemda diimbau untuk membeli sapi-sapi yang sakit agar melindungi peternak, pemprov Lampung juga akan bicarakan lebih lanjut jika ada dana khusus yang bisa dianggarkan untuk membeli hewan yang sakit," katanya.

Sebab menurutnya, PMK bukanlah penyakit berbahaya, karena bukan jenis penyakit zoonosis atau yang bisa tertular ke manusia. "Kalau antraks itu bisa menular, jadi tingkat keamanan PMK masih lumayan bisa diterima untuk manusia," katanya.

Apalagi untuk tingkat kematian di ternak hanya 5 persen, itupun paling banyak dari rata-rata ternak. Bahkan, sehingga menurutnya hewan yang sudah dinyatakan positif PMK dan sembuh, dagingnya bisa dikonsumsi manusia.

"Tapi masyarakat harus bisa bedakan juga, daging yang segar dan tidak. Misal daging warnanya pekat tidak cerah, bisa dicurigai tidak sehat. Namun jika sapi yang sakit namun dinyatakan sembuh, daging nya dikonsumsi tetap bisa dimakan, karena kualitas dagingnya akan otomatis segar," katanya.

Sementara, untuk kabupaten yang belum ada kasus PMK, pihaknya lakukan peningkatan pengawasan agar tak ikut terpapar dari kasus PMK tersebut.

"InsyaAllah dari pemerintah pusat, Provinsi dan kabupaten kota menyiapkan semacam obat serta vaksin untuk diberikan ke ternak guna meningkatkan referensi atau ketahanan dari sapi atau hewan ternak agar ada kekebalan," katanya.

EDITOR

Winarko


loading...



Komentar


Berita Terkait