#pembalakanliar#lampung

Pemodal Illegal Logging Hutan Lindung di Lamteng dan Pringsewu segera Disidang

Pemodal <i>Illegal Logging</i> Hutan Lindung di Lamteng dan Pringsewu segera Disidang
Ditjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat memeriksa tersangka. Lampost.co/Asrul Septian Malik


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ditjen Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) masih menyidik korporasi pelaku pembalakan liar alias illegal logging di Hutan Lindung Way Waya Register 22, Kabupaten Lampung Tengah (Lamteng) dan Kabupaten Pringsewu.

"Masih dalam tahap penyidikan di Balai Ditjen Gakkum pusat," kata Kepala Seksi III Gakkum KLHK Wilayah Sumatra, M. Hariyanto, Minggu, 3 Oktober 2021.

Baca: KLHK bakal Jerat Pidana Korporasi yang Terlibat Pembalakan Liar di Register 22

 

Saat ini, kata dia, penyidik masih melengkapi petunjuk dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung untuk kelengkapan berkas pekara tersebut.

"Jaksanya juga di Lampung," katanya.

Sementara itu, Kejati Lampung dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandar Lampung juga segera menyidangkan aktor intelektual sekaligus pemodal dalam perkara illegal logging tersebut. Jaksa Penuntut Umum (JPU) sedang menyiapkan rencana dakwaan (rendak) terhadap pelaku berinisial GC, pria asal Rusia yang kini berstatus sebagai warga negara Indonesia (WNI).

"Secara administrasinya di Kejari Bandar Lampung, saat ini sedang menyusun dakwaan," ujar Kasipenkum Kejati Lampung I Made Agus Putra.

GC merupakan pemodal pembalakan liar yang berada di Dusun III, Margosari, Desa Jatiagung, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu.  

Direktur Penegakan Hukum Pidana, Ditjen Gakkum KLHK, Yazid Nurhuda mengatakan, penetapan GC sebagai tersangka merupakan hasil pengembangan penyidikan terhadap NT (37) dan JI (31) sudah lebih dulu ditahan. 

“Terungkapnya kasus ini hasil dari perhatian Ketua Komisi IV DPR RI dan laporan masyarakat mengenai maraknya kegiatan penebangan ilegal kayu sonokeling di Provinsi Lampung,”  ujarnya.

EDITOR

Sobih AW Adnan


loading...



Komentar


Berita Terkait