#kudetamiliter#myanmar#asean

Pemimpin Junta Militer Myanmar Hadiri KTT ASEAN di Jakarta

Pemimpin Junta Militer Myanmar Hadiri KTT ASEAN di Jakarta
PEMIMPIN militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing akhirnya tiba di Indonesia pada Sabtu (24/4). FAJRIN RAHARJO / AFP


Jakarta (Lampost.co) -- Pemimpin militer Myanmar Jenderal Senior Min Aung Hlaing akhirnya tiba di Indonesia pada Sabtu, 24 April 2021. Min Aung Hlaing akan hadir dalam KTT ASEAN untuk membahas krisis Myanmar yang digelar sekitar pukul 14.30 WIB siang ini di Gedung Sekretariat ASEAN, Jakarta.

Sehari sebelumnya, pada Jumat, 23 April, para pengunjuk rasa berbaris di pusat kota Yangon untuk menuntut agar para pemimpin ASEAN berdiri dengan rakyat Myanmar.

Pertemuan para pemimpin dan menteri luar negeri ASEAN yang disebut ASEAN Leaders Meeting (ALM) ini menuai kecaman luas dari para aktivis, kelompok hak asasi manusia, dan pengunjuk rasa karena memasukkan rezim militer dalam kegiatan tersebut.

Di pusat komersial Yangon, di mana gerakan anti-kudeta telah melemah dalam beberapa pekan terakhir karena takut akan tindakan keras, pengunjuk rasa kembali ke jalan memberi hormat tiga jari sebagai bentuk perlawanan.

"Ibu Suu dan para pemimpin, lepaskan mereka segera!" teriak mereka saat berbaris dengan cepat melewati Pagoda Sule di pusat kota Yangon.

"Apa yang kita inginkan? Demokrasi!" tambahnya.

Beberapa pengunjuk rasa yang berasal dari berbagai kota di Yangon membawa tanda bertuliskan "ASEAN tolong berdiri bersama rakyat Myanmar" dan "ASEAN apakah Anda membutuhkan lebih banyak pertumpahan darah untuk membuat keputusan yang tepat?"

Pemerintah Persatuan Nasional yang beranggotakan para pemimpin yang digulingkan juga marah atas diundangnya Min Aung Hlaing dalam KTT ASEAN. Emerlynne Gil dari Amnesty International menyebut penanganan ASEAN atas Myanmar sebagai ujian terbesar dalam sejarahnya.

"Pihak berwenang Indonesia dan negara anggota ASEAN lainnya tidak dapat mengabaikan fakta bahwa Min Aung Hlaing dicurigai sebagai kejahatan paling serius yang menjadi perhatian komunitas internasional secara keseluruhan," katanya.

Seperti yang diketahui, Myanmar kini tengah berada dalam kekacauan sejak 1 Februari, karena militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dalam kudeta.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait