#lembagakursusmandarin#tembokcina#sejarah#leluhur

Pemilik Han Yuan Lampung itu Temui Peninggalan Sang Kakek

Pemilik Han Yuan Lampung itu Temui Peninggalan Sang Kakek
Pemilik Lembaga Kursus Bahasa Mandarin Han Yuan, Staven Cheng (tiga kiri) dan Jin Hua (depan) melepas kerinduan di tanah leluhurnya di Jinzhong Shi, Rabu (14/8/2019) berfoto bersama para pemred dan pimpinan media Lampung. Foto: Iskandar Zulkarnain


BEIJING (Lampost.co) -- Suara menggelegar di langit dan bumi Shanxi siang itu pukul 10.30 waktu setempat.

Tangisan haru pecah ketika Staven Cheng (43) bertemu, dan memeluk seorang nenek bernama Jin Hua (76) di Jinzhong Shi, sebuah kota kecil di Provinsi Shanxi, Tiongkok, Rabu (14/8/2019). 

Jin Hua adalah istri dari sepupu kakeknya Hao Xi Xian yang telah berpisah 70 tahun silam. Hao yang telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Mendiang adalah seorang tentara berpangkat kolonel.

Staven tidak bisa menahan tangis atas kerinduan kampung halaman kakek dari sang ibu. Rasa haru menyelimuti kediaman Jin Hua dimana tempat kakek Staven dibesarkan dan hidup di Negeri Tirai Bambu. 

Staven adalah seorang kepercayaan Konsulat Jenderal (Konjen) Tiongkok di Medan membawa rombongan para pemimpin redaksi (Pemred) dan pimpinan media di Lampung ke Tiongkok selama sepekan (11-19 Agustus 2019).

Dia menyempatkan diri menemui keluarga ibu, bahkan bertelepon dengan saudaranya yang kini masih berdiam di Tiongkok. 

Staven langsung menyaksikan dari dekat kamar kakek yang masih dijaga oleh kerabat. Sisa peninggalan masih utuh terawat, bahkan ruangan tidur tetap bersih dan rapi.

Bahkan dalam album kenangan keluarga, Staven memperlihatkan ketika ia masih remaja bersama keluarga, dan ibunya berkumpul bersama.

Album foto itu tersimpan oleh sang nenek. Itu salah satu bukti, bahwa Staven menjadi kebanggaan keluarga. Ayah Staven yang kini berusia 80 tahun, dan ibunya sudah tiada selalu berpesan jika bepergian ke  Tiongkok, Staven agar menyempatkan diri ke rumah kakek.

Sebagaimana masyarakat Tionghoa, selalu diajarkan usai silaturahmi diharuskan berziarah ke makam leluhur. Siang itu, para pemred yang sengaja dibawa Staven ke rumah kakeknya disuguhi buah-buahan segar dan air teh hangat.

Kerabat Staven memang sangat sederhana dan bersahaja. Itu menurun dalam darah keseharian Staven. Darah dari cucu seorang tentara itu juga mengalir ke diri Staven yang gigih mendirikan lembaga kursus mandarin bernama Han Yuan. 

Kini Han Yuan memiliki dua tempat belajar yang sangat refresentatif dan 12 sekolah di Tanjungkarang dan Telukbetung. Sejak Han Yuan berdiri pada 2003, sudah ada 7.000 siswa yang kursus di Han Yuan. Bahasa mandarin kini menjadi bahasa pergaulan di tingkat internasional dalam mencerdaskan anak-anak bangsa di Lampung ini.

Sebelum meninggalkan tanah kelahiran leluhurnya, Staven yang juga sekretaris Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Lampung memanfaatkan sisa waktu di kota kelahiran kakeknya berjalan bersama keluarga ibu--sebelum pulang ke tanah air.

Rasa sedih itu tidak bisa disembunyikan Staven ketika sore itu, mobil yang membawa ia bersama rombongan pemred meninggalkan Jin Hua dan anak-anaknya.

Jika anak bangsa bisa dan fasih berbahasa mandarin menjadikan Indonesia 74 tahun kian hebat dan unggul di mata dunia.

Sebelumnya rombongan pemred berkesempatan mengunjung benteng kuno bernama Ping Yao. Benteng yang masih kokoh itu dibangun pada tahun 700 SM masa Dinasti Xi Zhou. 

 

EDITOR

Iskandar Zulkarnain

loading...




Komentar


Berita Terkait