#Pembunuhan#Penganiayaan#DuelMaut

Pemicu Duel Maut di Pesawaran Terungkap

Pemicu Duel Maut di Pesawaran Terungkap
Rekonstruksi yang dilakukan Polsek Kedondong, Senin, 9 Maret 2021. (Foto: Dok Polsek Kedondong)


Pesawaran (Lampost.co) -- Pemicu duel maut di Desa Kotajawa, Kabupaten Pesawaran terungkap. Peristiwa ini bermula lantaran korban Beramhar (60), merasa tidak senang dipelototi oleh tersangka Nuryadin (55).

"Duel terjadi spontan. Korban Beramhar (60), merasa tidak senang dipelototi oleh tersangka Nuryadin (55), saat mereka bertemu di kebun," ujar Kanit Reskrim Bripka Andhika Ramadhona, Minggu, 14 Maret 2021.

Andika mengatakan pemicu keduanya berkelahi terungkap dalam rekonstruksi yang digelar beberapa hari lalu. Selain tersangka, polisi juga menghadirkan beberapa saksi terkait duel yang terjadi 20 Desember 2020 itu.

Awalnya tersangka tengah berbincang dengan saksi yakni Nuril dan Mirza di kebun. Lalu korban datang dan bertanya kenapa tersangka memelototinya. Tersangka Nuryadin membanta sangkaan korban.

"Dijawab begitu panaslah korban. Karena merasa tidak senang, korban mencabut golok. Melihat hal itu kedua saksi langsung lari menyisakan korban dan tersangka di tempat kejadian perkara," ujarnya.

Lalu terjadilah perkelahian antar keduaynya di kebun. Andika melanjutkan, dalam rekonstruksi 9 Maret lalu, tersangka Nuryadin mengakui menganiaya Beramhar menggunakan golok yang dibawa oleh korban.

"Kalau dari keterangan tersangka dan saksi-saksi memang tidak ada permasalahan lain. Hanya karena seplototan saja saat di kebun, itu yang menjadi pemicu keduanya berkelahi," kata dia.

Rekonstruksi dilakukan dengan 16 adegan. Reka ulang dimulai dari perbincangan tersangka dengan dua saksi, cekcok mulut tersangka dengan korban, perkelahian keduanya, hingga tersangka ke luar kebun meminta pertolongan dari warga dengan luka yang diderita.

"Rekonstruksi yang kita jalankan semuanya sama persis dengan keterangan yang diberikan baik oleh tersangka maupun dari para saksi-saksi yang kita mintai keterangan," ujar dia.

 

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait