Kedelaitempe

Pemerintah Patut Benahi Kualitas Kedelai Lokal

Pemerintah Patut Benahi Kualitas Kedelai Lokal
Kedelai impor. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengamat Ekonomi dari Unila, Marselina menilai kenaikan harga kedelai merupakan masalah klasik yang ada sebelumya. "Ini dari 1998, bukan baru-baru ini saja, karena pengrajin tidak mau menggunakan kedelai lokal jadi salah satu penyebabnya," kata dia, Senin 11 Januari 2021.

Mengenai stok kedelai dalam negeri yang dikabarkan menipis, dipengaruhi minimnya jumlah petani yang kurang tertarik untuk membudidayakan kedelai. Alasannya, permintaan kedelai lokal yang rendah.

"Harus berkombinasi, dari pemerintah, petani kedelai, hingga pengrajin tahu dan tempe, bekerjasama terkait pengadaan kedelai secara lokal. Agar tidak terus-terusan impor. Karena hal ini berkaitan dengan kurs," katanya.

Apalagi katanya, saat ini adalah momen yang tepat untuk pemerintah memanfaatkan yang dimiliki negara untuk mengembangkan hasil pertanian. "Negara ini luas dan mendominasi pertaniannya. Dengan kondisi saat ini sebenarnya momen bagus untuk pemerintah manfaatkan situasi untuk membenahi kualitas kedelai lokal," ujarnya. 

Pemerintah jangan membiasakan perajin selalu menikmati kedelai impor. Sebab, akan menjadikan hal yang tidak baik dan tak menaikkan ekonomi lokal. Ia juga mengharapkan adanya kegiatan kampanye yang dilakukan dinas terkait kepada masyarakat yang menyuarakan kandungan protein pada kedelai hasil lokal tidak kalah dengan impor.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait