#DBD#pemerintah

Pemerintah Juga Diminta Fokus Menangani DBD

( kata)
Pemerintah Juga Diminta Fokus Menangani DBD
Ilustrasi--Petugas melakukan fogging dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk DBD. (Foto: MI/Sumaryanto)


Jakarta (Lampost.co) -- Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafiroh, meminta pemerintah tidak cuma fokus pada permasalahan virus covid-19. Masalah demam berdarah dengue (DBD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai lebih urgen.
 
“Ini sebenarnya yang harus kita waspadai. Di NTT sudah ada 25 warga meninggal, ada 2.000 sekian yang terjangkit, ini sebenarnya satu sisi ironi sekali,” kata Ninik di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2020.
 
Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengingatkan pemerintah tidak cuma perhatian pada wabah yang baru muncul. Padahal, ada penyakit-penyakit yang muncul tiap tahun di Indonesia.

Ninik meminta semua pihak mewaspadai siklus lima tahunan penyakit DBD. Dia menyebut saat memasuki masa siklus, potensi sebaran DBD akan meningkat.
 
Penyakit tak cuma menyerang warga NTT, tetapi juga wilayah lain di Indonesia. Masyarakat diminta menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui aksi 3 M, yakni mengubur barang bekas, menutup, dan menguras bak mandi.
 
“Jangan sampai kasus korona juga mengalihkan perhatian kita," tutur dia.
 
Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengingatkan masyarakat terutama di DKI Jakarta tetap waspada dan tidak lengah terhadap DBD di tengah kepanikan akibat virus korona. Apalagi, curah hujan masih cukup tinggi.
 
Kemunculan demam berdarah di DKI Jakarta biasanya terjadi setelah ada peningkatan kasus di berbagai daerah lain. Siti mengimbau pemerintah dan masyarakat tetap waspada serta tidak hanya fokus pada penanganan virus korona yang marak belakangan ini.
 
"Takutnya karena fokus korona, lalu demam satu atau dua hari dan kemudian tidak menunjukkan gejala, masyarakat tidak menganggap adanya kemungkinan terjangkit demam berdarah," kata dia.
 
Sebab, dalam kasus demam berdarah, fase kritis ialah hari ketiga dan keempat saat penderita merasa sudah sehat. Padahal, itu masa-masa masuknya pre-shock DBD.
 
Kasus DBD di Tanah Air mengakibatkan 94 orang meninggal sejak Januari hingga awal Maret 2020. Adapun jumlah kasus secara nasional mencapai 14.716.
 
Data kematian di antaranya berada di zona merah Nusa Tenggara Timur (NTT) 29 orang, Jawa Barat 15 orang, dan Jawa Timur 11 orang. Kemudian, zona kuning tujuh kasus kematian di Lampung, empat di Jawa Tengah, tiga di Bengkulu dan tiga di Sulawesi Tenggara.
 
Selanjutnya, masing-masing dua kasus kematian di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. Serta, masing-masing satu kasus kematian di Provinsi Jambi, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Komentar


Berita Terkait