#pajak#beacukai

Pemerintah Bahas Cukai Anggur dan Miras, Berpotensi Ikut Naik

Pemerintah Bahas Cukai Anggur dan Miras, Berpotensi Ikut Naik
Minuman keras. Ilustrasi


Jakarta (Lampost.co) -- Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan kebijakan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk 2022 dengan kenaikan rata-rata 12 persen. Kebijakan itu ditetapkan pascarapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Pande Putu Oka, mengatakan tarif cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) juga bakal mengalami kenaikan. Meskipun saat ini kebijakan tarif cukai MMEA tersebut masih dalam proses pembahasan dengan stakeholders terkait.

"Untuk tarif cukai MMEA ini masih dalam proses pembahasan dengan stakeholders terkait," ujar Pande Putu dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 15 Desember 2021.

Dia menambahkan, terkait barang yang memiliki dampak eksternalitas yang tinggi, seperti rokok dan minuman keras (miras) bisa saja terjadi kenaikan. "Jika telah ditetapkan, pemerintah akan segera mengumumkan," tegasnya.

Cukai MMEA memiliki tiga golongan, yakni golongan A atau dikenal dengan bir, golongan B (anggur), dan golongan C (miras). "Jadi tarif cukainya bisa disesuaikan, apalagi golongan B dan C belum pernah mengalami kenaikan. Golongan A sendiri terjadi penyesuaian tarif pada 2019," ungkap Pande Putu.

Adapun tarif cukai MMEA terjadi penyesuaian pada 2019 yang lalu. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 158 Tahun 2018 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol, Minuman yang Mengandung Etil Alkohol, dan Konsentrat yang Mengandung Etil Alkohol, telah melakukan penyesuaian untuk tarif cukai MMEA golongan A.

Dalam beleid tersebut, kenaikan tarif diberikan untuk MMEA Golongan A dengan kadar etil alkohol sampai lima persen, dari Rp13 ribu per liter menjadi Rp15 ribu per liter.

Sedangkan, tarif cukai untuk MMEA golongan B dan C tidak pernah mengalami penyesuaian sejak 2013 lalu, meskipun data dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menunjukkan selama 2013-2019, pertumbuhan rata-rata MMEA golongan B dan C tumbuh hingga dua digit. 

Secara CAGR selama enam tahun tersebut, volume golongan B dan C domestik tumbuh masing-masing 10,8 persen dan 19,4 persen.

Bahkan pada 2020, volume golongan B domestik mampu mencatat kenaikan dua persen ketika volume golongan lain terdampak pandemi covid-19 dan turun signifikan, misalnya volume golongan A domestik yang turun tajam hingga 41 persen.

"Kalau memang mau menaikkan penerimaan negara dari cukai minuman keras, maka bisa dinaikkan pula cukai minuman keras di semua golongan," ungkap Ekonom CORE Indonesia Piter Abdullah.

Jika cukai tersebut dinaikkan, sebut dia, pemerintah mengharapkan penerimaan negara naik, apalagi di saat pandemi covid-19 seperti saat ini. Namun di sisi lain ia menambahkan sesuai dengan prinsip cukai sebagai instrumen pengendalian dampak ekternalitas negatif, maka pemerintah hendaknya melakukan penyesuaian tarif diikuti dengan upaya untuk mengurangi konsumsi.

"Jangan sampai menaikkan cukai hanya untuk menaikkan penerimaan, itu berarti sudah berubah dari tujuan dari cukai," pungkas Piter.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait