#sengketatanah#staituba#beritatuba

Pemegang Sertifikat Tak Merasa Menghibahkan Lahan Kepada STAI Tuba

Pemegang Sertifikat Tak Merasa Menghibahkan Lahan Kepada STAI Tuba
Irfan Rinaldi, Kuasa hukum penggugat tanah STAI Tulangbawang. (Lampost.co/Ahmad Sobirin)


PANARAGAN (Lampost.co) -- Kuasa hukum penggugat tanah seluas 3.500 meter persegi yang dikuasai Sekolah tinggi agama Islam (STAI) Tulangbawang, Irfan Rinaldi, menganggap, Ketua STAI Tuba Abu Thalib Khalik dan jajarannya tidak memiliki dasar hukum menguasai tanah milik keluarga kliennya.

"Semua orang tahu jika diatas lahan tersebut dahulu pada tahun 1970 di bangun dan di tempati oleh kantor PU. Kemudian pada tahun 1998 tanah tersebut di konversi menjadi tanah garapan berseteru sertifikat hak milik atas nama Samuji dan Rina," ujarnya, Selasa (23/10/2018).

Bagaimana mungkin, tiba tiba pada tahun 2015 pihak STAI Tulangbawang, Abu Thalib Khalik mengatakan pihaknya mendapat hibah terhadap lahan tersebut, yang kemudian dijadikan alasan untuk mendapatkan izin dari dan minta dana hibah untuk membangun STAI Tulangbawang.

Dugaan pemanfaatan lahan seluas 3.500 hektar di jalan raya lintas timur km 19 Cahyo randu kecamatan Pagar dewa kabupaten Tulangbawang barat, oleh yayasan Minak Kemala Bumi diakui oleh pihak Abu Thalib Khalik selaku ketua STAI Tuba.

"Kami pindah dari Poltekkes Menggala pada bulan Maret 2013, karena ada hibah tanah dari masyarakat yaitu saudara Arjuni bin Usman, orang sini dan masih disini saat ini, berdasarkan surat hibah itulah kami mengajukan IMB yang di tandatangani oleh camat Pagar dewa, dan di setujui oleh bupati Tulangbawang barat maka jadilah tempat ini dan kami tempati hingga saat ini," ujarnya.

Terkait adanya gugatan dari Irfan Rinaldi atas nama ahli waris Samudji (Alm) selaku pemegang sertifikat SHM No. 129/1998 dan SHM No. 160/1998 di pengadilan negeri Menggala dengan nomor perkara 27/Pdt.G/2018 di Pengadilan Negeri Tulangbawang, sejak 18 Juni 2018 dan kini telah memasuki sidang yang ketiga kalinya.

Abu Thalib menjelaskan, bahwa dalam tuntutan penggugat tidak hanya melakukan tuntutan kepada lembaganya saja, namun kepada sejumlah lembaga diantaranya departemen agama RI, dan pejabat daerah di dua kabupaten yakni Tulangbawang dan Tulangbawang barat.

"Jadi selain saya ada 16 nama yang disebutkan dalam gugatan itu, dan kita percayakan kepada penasehat hukum kami termasuk kementerian agama juga memberikan kuasa kepada penasehat hukumnya," ujarnya.

Kepada Lampost.co Abu Thalib Khalik, mengatakan bahwa sejarah STAI Tulangbawang pada mulanya berkedudukan di gedung Poltekkes Menggala, menempati lahan seluas kurang lebih 1 hektare, bekas rumah sakit daerah Tulangbawang, hibah dari pemerintah daerah kabupaten Tulangbawang yang di tandatangani oleh bupati Tulangbawang, Abdurrahman Sarbini pada tahun 2008, yang di berikan kepada panitia pendiri STAI Tulangbawang.

"Jadi pendirian STAI Tuba ini dari awal telah melibatkan pejabat daerah, bahkan saat tim asesor dari Dikti memeriksa kelengkapan administrasi kami didampingi oleh para pejabat itu, karena itulah kami yakin prosedur pendirian STAI Tuba ini tidak ada yang melanggar aturan hukum," kata Abu Thalib.

Saling klaim kebenaran kepemilikan lahan tersebut, sebelumnya juga di sampaikan oleh kuasa hukum penggugat, yang bertekad akan memperjuangkan hak atas tanah yang saat ini dikuasai oleh lembaga pendidikan STAI Tuba.

EDITOR

Ahmad Sobirin

loading...




Berita Terkait


Komentar