#filsafat#setitikair

Pembusukan Filsafat

Pembusukan Filsafat
dokumentasi pixabay.com


ADA yang menarik perhatian saya dalam diskusi publik bertajuk Menolak Pembusukan Filsafat di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, yang digelar Rabu (13/2/2019). Rasa-rasanya baru kali ini ada diskusi publik yang membahas hal-hal berat seperti filsafat dibicarakan secara gamblang dan terbuka untuk umum. Bukankah filsafat yang kata sebagian orang ibu dari semua seni (the mother of all the arts) dan induk dari segala ilmu pengetahuan itu tidak mudah untuk diperbincangkan? 

Sahaya segera tertungkus lumus di depan laptop menelusuri apa itu filsafat. Namun, izinkan sahaya hanya sekilas membahas dari sisi semantik atau makna katanya saja. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/filsafat) mendefinisikan filsafat menjadi empat batasan atau arti. Pertama, pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Kedua, teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. Ketiga, ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi, serta arti yang memungkasi definisi filsafat hanya satu kata yaitu falsafah. 

Adapun para pembicara dalam diskusi publik tersebut di antaranya beberapa pegiat filsafat, seperti budayawan sekaligus sastrawan, Goenawan Mohamad; dosen Filsafat Universitas Indonesia, Donny Gahral Adian; dan ahli politik yang juga eks peneliti utama LIPI, Mochtar Pabotingi. Kemudian, dosen STF Driyarkara, A Setyo Wibowo; mahasiswa strata tiga University of Pennsylvania, Amerika Serikat, sekaligus alumnus STF Driyarkara, Akhmad Sahal; dan dimoderatori oleh Arif Susanto. Tentu saja para pembicara dalam diskusi publik itu orang-orang yang tidak diragukan lagi kemampuannya dalam bidang filsafat. Sesekali via medsos yang dimiliki, entah itu Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya, para pegiat filsafat kiwari itu menuliskan pemikirannya mengenai sikon yang terjadi di tengah bangsa dengan sedikit berbau filsafat. 

Bukan itu yang menjadi pokok perkara dalam catatan ini. Problem yang menggelitik sahaya justru pada judul diskusi publik itu sendiri. Benarkah filsafat bisa membusuk seperti halnya buah, daging, atau semacam yang berbau tidak sedap begitu? Bukankah filsafat itu suatu ilmu yang artinya tidak akan pernah busuk. Dengan kata lain, ilmu itu abadi.

Berdasarkan rilis yang beredar, pembusukan filsafat muncul kembali paling tidak dalam dua bentuk. Pertama, filsafat digunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik tertentu. Kedua, filsafat dilacurkan sebagai alat untuk tujuan subsistem semata dan bukan lagi sebagai sebuah art of thinking, sebagaimana di era filsuf Yunani kuno. 

Pihak sana dan sini punya versi berbeda untuk sebuah diskusi berbau filsafat. Kini, semua bergantung pada bagaimana saudara menyikapinya saja. Yang terang, terkait pengetahuan, dalam kitab Amsal 1 Ayat (7) yang sahaya mengimani dalam hati tersurat: Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. 

EDITOR

Wandi Barboy, Wartawan Lampung Post

loading...




Komentar


Berita Terkait