#pendidikan#kurikulummedeka#paud

Pembentukan Karakter Merdeka Belajar Dimulai Sejak PAUD

Pembentukan Karakter Merdeka Belajar Dimulai Sejak PAUD
Pembentukan Karakter Merdeka Belajar Dimulai Sejak PAUD. Ilustrasi


Bandar Lampung (Lampost.co)-- Perubahan jenjang PAUD, SD, SMP, dan SMA sederajat tercantum dalam Rancangan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).

RUU Sisdiknas yang masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Perubahan Tahun 2022, mengusung beberapa poin perubahan bagi siswa, guru PAUD, SD, SMP, SMA dan sederajat mulai dari waktu belajar, dan mapel wajib.

Berita Terkait: Kurikulum Merdeka Lebih Tepat Untuk PAUD

Pengamat Pendidikan Universitas Lampung (Unila) M. Thoha B Sampurna Jaya mengatakan jika PAUD dalam RUU Sidiksnas sudah masuk dalam pendidikan formal seperti SD, SMP, dan SMA, makanya saya sarankan wajib belajar itu 13 tahun, 1 tahun di PAUD dan 12 tahun SD, SMP, SMA,.

Selain itu PAUD dinilai penting karena sebagai pondasi pendidikan karakter Pancasila. Karena pendidikan karakter harus dimulai sedini mungkin, dan PAUD adalah waktu yang tepat untuk itu, katanya, Minggu, 18 September 2022.

"Pembentukan karakter itu mesti dari PAUD agar sedini mungkin, sebab kalau sudah jadi mahasiswa sulit merubah karakter itu sudah karatan gitu ya," jelasnya.

Thoha melanjutkan, pentingnya pendidikan Pancasila sejak dini dikarenakan masalah karakter dan pembentukan karakter berkaitan langsung dengan masalah nilai moral.

"Dari sila pertama itu sudah menyangkut Ketuhanan Yang Maha Esa sampai sila kelima itu menyangkut keadilan sosial bagi seluruh rakyat itu bicara tentang karakter, maka itu sangat penting sekali," ujarnya.

Selain itu PAUD memiliki proses pembelajaran yang berbeda dengan jenjang pendidikan lain.

PAUD itu belajarnya melalui bermain. Karena  melalui bermain inilah  berbeda dengan jenjang yang lain, maka di situlah guru bisa leluasa untuk memanfaatkan proses pembelajaran anak itu sesuai dengan kurikulum merdeka belajar.

"Bisa juga memanfaatkan tradisi lokal  dalam proses pembelajarannya, karena belajar mereka itu melalui permainan ya. Jadi tradisi lokal itu bisa dimanfaatkan oleh guru dalam proses pembelajaran anak usia dini," pungkasnya.

EDITOR

Sri Agustina


loading...



Komentar


Berita Terkait