#COVID-19LAMPUNG#LAMPUNGSELATAN

Pembelajaran Daring Picu Siswa SMA di Ketapang Putus Sekolah

Pembelajaran Daring Picu Siswa SMA di Ketapang Putus Sekolah
Ilustrasi: Pixabay.com


 
 
Kalianda (lampost.co) -- Sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan pemerintah kabupaten Lampung Selatan sejak pandemi Covid-19 April 2020, berdampak pada anak didik. Tidak sedikit para siswa tingkat SMA sederajat di kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, akhirnya putus sekolah karena pembelajaran daring tersebut. 

"Tidak banyak, hanya kisaran lima atau tujuh siswa saja, dua diantaranya karena hamil. Sedangkan lainnya belum ada keterangan keluar dari SMK ini. Hanya saja mereka tidak pernah mengikuti KBM sejak  sistem daring diberlakukan," kata guru IPA di SMKN I Ketapang yang enggan disebutkan namanya.

Hal senada diungkapkan Sugianto, guru kesiswaan SMAN l Ketapang.  Ia menampik dengan isu  banyaknya siswa yang putus sekolah karena pembelajaran jarak jauh. Dikatakannya, walau belajar jarak jauh, anak didik masih tatap muka dengan teman lainnya, karena setiap hari gedung sekolah harus bersih. "Jadi setiap hari ada saja siswa kelas X sampai kelas XII yang membersihkan sekolah. Namun, untuk kegiatan belajar mengajar tetap sistem daring. Namun tidak semua siswa mengikutinya," ujar Gianto.

Menurut dia, pembelajaran daring sangat berpengaruh dengan kondisi ekonomi guru dan orang tua siswa karena modal utama dalam pembelajaran daring di masa Covid-19 adalah kuota internet dan telepon pintar (smartphone). Banyak orang mengeluh karena bertambahnya pengeluaran. Tidak sedikit yang tidak memiliki telepon pintar karena kondisi ekonomi keluarganya sulit. 

Bahkan, ada beberapa guru yang dikurangi atau dipotong penghasilannya karena biaya transportasi ditiadakan. Begitu juga dengan orang tua siswa banyak yang di-PHK (putus hubungan kerja) karena berbagai alasan. Padahal, selama pembelajaran daring dibutuhkan biaya tambahan. 

"Sebagian besar keluarga tidak mampu yang tidak bisa menyediakan fasilitas belajar daring meminta anaknya untuk berhenti sekolah," ujarnya.

Fakta tersebut dialami Aksan, siswa kelas XI SMKN I Ketapang, Lampung Selatan . Orang tua Aksan yang tinggal di dusun Trans Cilacap desa Karangsari, kecamatan Ketapang, mengakui pembelajaran daring (online) dan luring(offline) selama pandemi Covid, telah menjadi kendala besar bagi keluarganya.

"Dengan adanya perubahan cara belajar ini membuat biaya pendidikan tambah tinggi di masa sulit seperti ini. Selain itu, capaian belajar anak pun turun,  karena waktu KBM terbatas. Kemudian, disiplin tidak berada di rumah, malah keluyuran," kata Ayah Aksan yang enggan disebutkan namanya, Minggu, 7 Februari 2021.

Apalagi anak tersebut dari keluarga tidak mampu dan tidak memiliki alat pendukung belajar daring. Maka, mereka memilih  untuk berhenti sekolah.  

“Semakin lama anak-anak tidak sekolah, semakin kecil kemungkinan mereka untuk kembali,” katanya.

Pandemi Covid-19 tak hanya memberi tantangan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pandemi juga mengancam dunia pendidikan secara global. Berdasarkan data dari konperensi pers virtual Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unesco) pada September 2020 terungkap dari 1,6 miliar siswa di dunia, sebanyak 24 juta siswa terancam putus sekolah selama pandemi. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait