#pembangunanekonomi#indonesia

Pembangunan Ekonomi Indonesia Terbaik Kedua di Bawah RRT

Pembangunan Ekonomi Indonesia Terbaik Kedua di Bawah RRT
Irma Suryani Chaniago. Medcom.id


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Meski di tengah pandemi global virus korona dengan terus bertambahnya jumlah kasus konfirmasi Covid-19, Indonesia tetap melaksanakan pembangunan ekonomi. Pembangunan yang dilaksanakan pun mendapat kabar baik dalam Forum Economi G20.

Hal itu disampaikan oleh politisi Partai NasDem Irma Suryani Chaniago, Selasa, 24 November 2020. Ia mengatakan Indonesia hanya berada satu tingkat di bawah Republik Rakyat Tiongkok (RRT). 

"Bangga memiliki presiden yang cerdas dan tangguh seperti Ir. Joko Widodo dan bangga memiliki Menkeu yang cerdas dan tegas seperti ibu Sri Mulyani," ujarnya.

Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua jatuh di minus 5,3 persen. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia (-17 persen), Filipina (-16,50 persen), Singapura (-13,20 persen), dan Thailand (-12,20 persen), pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif lebih baik. 

Melihat fakta tersebut, katanya, dapat disimpulkan pengelolaan negara dalam bidang ekonomi Indonesia sangat baik. Menurut dia, keputusan tidak melakukan lockdown dan hanya melakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) adalah keputusan tepat dan cermat yang dilakukan Presiden Joko Widodo.

"Negara-negara yang melakukan lockdown pertumbuhan ekonominya terjun bebas dan hasil penanganan protokol Covidnya tidak lebih baik dari Indonesia," ujarnya.

Untuk itu, ia menghimbau semua pihak untuk bergandeng tangan bahu-membahu agar pertumbuhan ekonomi kembali normal di angka 4-5 persen sehingga pembangunan dapat kembali dilakukan dan program penyejahteraan rakyat dapat dicapai . 

"Kita bersama dukung pemerintah dengan kerja keras maupun kritik konstruktif agar target Indonesia ke depan lebih baik dapat dicapai, berhenti mengganggu kondusif dengan demo-demo tidak berdasar dan berhenti memecah-belah dan merusak persatuan dan kesatuan bangsa dengan politik identitas dan SARA," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina

loading...




Komentar


Berita Terkait