#Covid-19lampung#covid-19#pemulasaraan

Peluh Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19, Pasrah dan Ikhlas

Peluh Petugas Pemulasaraan Jenazah Covid-19, Pasrah dan Ikhlas
Ilustrasi. Warga mengumandangkan azan di dekat pusara keluarganya yang meninggal akibat covid-19. MI/Vicky Gustiawan


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Suara dering telepon memecah lamunan Nur Aetin menjelang tidur sekitar pukul 24.00 WIB. Rupanya itu panggilan dari salah satu petugas Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) yang berarti ada jenazah yang harus diurus olehnya, dan benar saja.

Usai mendapat panggilan tugas, segera Nur meminta izin suami dan anak untuk pergi ke rumah sakit milik pemerintah itu. Tanpa keberatan sang suami segera mengantar dengan diiringi doa anak-anaknya.

"Alhamdulillah keluarga mendukung, bahkan selalu memberi semangat dan mengingatkan untuk jaga kesehatan," tuturnya.

Sampai di lokasi ia bergegas menggunakan pakaian hazmat sebagai pelindung diri bersama rekannya Rosidah, kemudian menuju ruang isolasi tempat pasien meninggal. Pemulasaran dilakukan langsung di ruang perawatan sebab begitulah SOP-nya.

Ia hanya berdua menangani jenazah sebelum dimakamkan, terkadang dibantu dengan petugas pria untuk mengangkat peti.

"Kalau berdua saja tidak kuat, kami minta bantu sama pengurus jenazah laki-laki untuk ngangkat peti," ungkapnya.

Nur merupakan salah satu yang bertugas untuk memulasarkan jenazah pasien Covid-19 khusus perempuan. Tugasnya tak kenal waktu, kadang pekerjaannya mengharuskan perempuan tiga anak itu keluar rumah ketika semua orang pulas tertidur.

Dalam sehari ia bisa menangani 3 - 5 jenazah pasien Covid-19 yang meninggal di RSUDAM. Bahkan pada Jumat dan Sabtu, 9-10 Juli lalu ia menangani hingga 15 jenazah.

"Hari ini, Kamis, 15 Juli 2021, saya tangani 5 jenazah," pungkasnya.

"Kami kewalahan, saya berangkat dari subuh dan baru pulang waktu maghrib. Di rumah sempat ditelepon lagi tapi saya gak sanggup, akhirnya mereka (pihak rumah sakit) menggunakan relawan, Jumat dan Sabtu kemarin," lanjutnya.

Meski pekerjaannya berbahaya bagi diri sendiri, hal itu tak membuatnya takut dan meninggalkan pekerjaannya. Ia hanya berpikir untuk membantu orang dan berpasrah pada Allah.

Warga Pasir Gintung, Tanjungkarang Pusat itu tak menepis kerap khawatir membawa virus saat pulang ke rumah. Namun, kekhawatirannya justru membuat Nur lebih waspada sebelum pulang ke rumah.

"Saya yakin saja setiap perbuatan baik akan dibalas kebaikan sama Allah, Alhamdulillah sampai sekarang sehat," ujarnya.

Ia bercerita, belakangan banyak pasien Covid-19 datang dan meninggal di tempatnya bekerja selama 16 tahun itu. Hal itu membuatnya kerap baru bisa pulang larut malam.

"Kadang jam 10 malam ditelepon, sempat juga jam 2 malam saya baru pulang," ungkapnya.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait