buahhatihumaniora

Pelipur Orang Tua yang Kehilangan Buah Hati

( kata)
Pelipur Orang Tua yang Kehilangan Buah Hati
Lampost.co/Ricky Marly


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Ada tiga tema yang bisa menjadi bahan tulisan, yaitu hidup, cinta, dan kematian. Ila memilih dua dari tiga tema tersebut, sehingga buku yang ditulisnya ini sangat menarik. Demikian disampaikan oleh Udo Karzi, sastrawan dan jurnalis Lampung, dalam bedah buku virtual “Dia Menanti di Surga” karya Ila Fadilasari yang digelar oleh PW Fatayat NU Lampung, Kamis 29 Oktober 2020.

Menurut Udo, meski ditulis dalam perspektif seorang ibu yang kehilangan buah hati, Ila tidak menunjukkan bahwa dia sedang terpuruk. “Bahkan Ila sangat kuat, sehingga dia bisa memaparkan secara gamblang rangkaian peristiwa kehilangan yang dia hadapi, dan berbagi melalui bukunya,” kata Udo.

Udo mengatakan, Ila pasti sudah mempertimbangkan sebelum menulis pengalaman pribadinya tersebut. Sebab, sebelumnya Ila biasa menulis tentang politik dan investigasi. Dua buku Ila sebelumnya adalah Talangsari 1989 Kesaksian Korban Pelanggaran HAM dan Dipasena : Kemitraan Konflik dan Perlawanan Petani Udang. 

“Dulu Ila berani menulis hal-hal yang sangat politis dan investigatif, sehingga dia berani menulis apa yang dialaminya sendiri,” kata Udo.

Dia menambahkan buku Dia Menanti di Surga ini sangat bermanfaat karena banyak pelajaran yang dapat diambil di dalamnya. “Ila menulis bagaimana menyikapi bayi yang sakit yang kerap luput dari perhatian orang tua, bagaimana merawat bayi yang sakit di rumah, dan yang terpenting adalah mengikhlaskan saat sang buah hati berpulang, serta mengambil hikmah dari peristiwa tersebut,” papar Udo.

Ila Fadilasari yang dikenal sebagai jurnalis itu menuturkan, awal mula dia menulis buku itu adalah ketika dia menulis sebuah artikel berjudul “Mengatasi Kesedihan Saat Buah Hati Berpulang”, di sebuah media elektronik. 

Ternyata, dalam satu bulan, pembaca tulisannya mecapai ribuan viewer. Ila lantas menulis di blognya. Lagi-lagi banyak sekali pembacanya dan mengisi kolom komentar. “Dari situ saya menyadari, bahwa orang tua yang kehilangan buah hati itu sangat banyak. Dan mereka rata-rata larut dalam kesedihan tersebut. Makanya saya bertekad menulis secara lengkap,” katanya. 

Dalam bukunya itu Ila bukan saja memaparkan peristiwa kehilangan anak laki-lakinya itu, tapi juga mengungkapkan ada penyakit pembunuh nomor satu pada bayi yang sering disepelekan oleh orang tua, karena mirip dengan flu biasa. Akibat kelalaian tersebut, banyak bayi yang terlambat mendapat pertolongan medis. 

“Setelah anak saya meninggal, saya banyak mendengar bayi-bayi yang berpulang dengan gejala seperti anak saya, yaitu batuk-batuk hingga tubuhnya menghitam. Saya kemudian mencari apa nama penyakit itu. Ternyata penyakit itu adalah pneumonia, penyakit pembunuh nomor satu pada bayi dan anak-anak,” kata Ila, yang dalam penulisannya bukunya mewawancarai sejumlah dokter anak. 

Bedah buku virtual itu merupakan rangkaian Konferensi Wilayah PW Fatayat NU Lampung, yang digelar hingga hari Sabtu (31/10/2020) mendatang. Para peserta bedah buku ini berasal dari berbagai kabupaten di Lampung, bahkan ada pula yang dari luar Provinsi Lampung.

Dipandu oleh host Malikhah Saadah, acara berlangsung santai dan menarik. Dua orang peserta yang pertanyaannnya paling menarik,  mendapat doorprize berupa buku Dia Menanti di Surga. 

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Berita Terkait


Komentar