#REFLEKSI#VAKSIN

Paspor Vaksin

Paspor Vaksin
Pemain Portugal, Cristiano Ronaldo saat menghadapi kesebelasan Hungaria pada laga kualifikasi Piala Dunia 2018. AFP/Patricia De Melo Moreira


SUARA gemuruh sorak para pendukung dua kesebelasan membahana seantero Stadion Puskas Arena, Budapest, Hongaria, Selasa (16/6) lalu, di laga Piala Eropa 2020 Grup F berhadapan Hongaria  vs Portugal. Apalagi dengan kehadiran Ronaldo, bintang Portugal—menambah gegap gempita penonton untuk memberikan semangat adu tanding.

Di tengah pandemi Covid-19, ada pemandangan menarik dari pertandingan kali ini. Stadion berkapasitas 67 ribu penonton itu terisi penuh memadati tribune kanan dan kiri panggung utama. Biasanya, stadion untuk laga Euro 2020 dibatasi penonton guna mencegah penyebaran virus corona.

Tidak ada jaga jarak! Apalagi memakai masker dan mencuci tangan saat memasuki stadion. Negara yang berpenduduk 9,8 juta jiwa itu melaporkan terpapar Covid-19 sebanyak 800 ribu orang dengan kematian mencapai 30 ribu. Virus dianggap angin lalu. Mungkin warga merasa sudah divaksinasi, sehingga tidak perlu lagi menerapkan protokol kesehatan.

Penduduk Benua Biru memang sangat merindukan pertandingan yang sempat tertunda setahun akibat corona. Salah satunya adalah Perdana Menteri (PM) Hongaria, Viktor Orban. Penguasa Negeri Magyar itu dengan cepat sigap mempercepat aturan vaksinasi termasuk lockdown. Sehingga rakyatnya bisa menikmati laga di Stadion Puskas Arena.

Bangsa Eropa berpikir lebih maju mengantisipasi penyebaran Covid-19 walaupun di Inggris ditemukan varian baru dari virus corona. Hanya orang-orang yang sudah divaksin yang diperbolehkan datang ke stadion. Seperti suporter Hongaria wajib mengenakan gelang khusus yang sudah divaksin.

Cara-cara seperti itu dan menjaga protokol kesehatan membuat Hongaria menjadi tuan rumah pertandingan sepak bola tahun ini. Piala bergensi yang tertunda itu, karena tekad kuat memerangi Covid-19, akhirnya Uni Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) menggelar Euro 2020 pada 11 Juni hingga 11 Juli 2021. Tekad kuat ini patut dicontoh!

Bagi Eropa, perhelatan piala dunia mini selama sebulan, adalah tontonan mengasyikkan. Mungkin ada juga pasar taruhan, siapa yang akan menjadi pemenang dalam setiap pertandingan. Tidak terkecuali negara-negara belahan dunia lainnya seperti di Indonesia.

Ajang tanding empat tahunan ini diikuti 24 timnas negara Eropa. Berbeda dengan laga sebelumnya, Piala Euro 2020 ini melibatkan 11 kota dengan negaranya sebagai tuan rumah pertandingan. Aturan yang disepakati di Puskas Arena, Budapest, berlaku juga di stadion lainnya adalah penonton diwajibkan tes PCR dan divaksin sebelum masuk tempat laga itu.

Yang paling menegangkan penyebaran Covid-19 pada saat pertandingan semifinal dan final Piala Eropa nanti. Rencananya digelar di Stadion Wembley, Inggris. Puncak laga ini akan disaksikan 40 ribu penonton di sejumlah tribune. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengumumkan penguncian wilayahnya akibat Covid-19 dicabut pada 21 Juni mendatang.

Inggris pun sigap memutus penyebaran Covid-19. Harapannya agar rakyat  kembali beraktivitas. Dan negara-negara Uni Eropa (UE) akan menerapkan sertifikat digital vaksin pada 1 Juli mendatang. Kebijakan ini akan membuat pergerakan bebas pengunjung antarnegara di Eropa.

Caranya? Melalui aplikasi telepon seluler memuncul kode batang/barcode–bukti bahwa mereka sudah divaksinasi. Dalam bentuk paspor vaksin, aplikasi akan memuat informasi nama, tanggal lahir, dan status vaksin.

Sama halnya jika jemaah mau pergi haji. Diharuskan divaksin meningitis. Negara Arab Saudi tidak akan menoleransi jemaah yang belum divaksin. Di era digital sangat memungkinkan penduduk dunia terkoneksi secara daring/online yang sudah mengantongi paspor vaksin saat akan bepergian ke luar negeri.

***

Belum lama ini, survei Ipsos menerbitkan hasil penelitiannya bahwa dua pertiga atau 66% responden di 28 negara di dunia menggunakan paspor vaksin sebagai syarat ke luar negeri. Amerika Serikat saja, sebanyak 71% warganya mendukung paspor vaksin untuk perjalanan internasional, disusul Prancis, Inggris, Australia, Tiongkok, Jepang, juga Jerman.

Sementara di Indonesia, wabah Covid-19 masih menjadi perhatian serius. Pascalibur Idulfitri 1442H, lonjakan pasien terpapar virus naik tajam. Hingga akhirnya, nonton bareng (nobar) Euro 2020 tidak diperbolehkan. Adalah Ibu Kota Negara, Jakarta, secara tegas melarang nobar di pusat-pusat hiburan apalagi memberikan voucer atau hadiah menarik.

Baca juga : Prokes, Hayo Sekolah!

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengingatkan masyarakat tidak terseret euforia kejuaraan sepak bola Piala Eropa tersebut. "Saya yakin tim yang juara adalah tim yang disiplin. Disiplin menjaga kesehatan. Mari kita nonton Euro di rumah saja dan tidak menggelar nonton bareng karena bisa menimbulkan kerumunan," kata dia dalam akun Ig-nya, Rabu (16/6).

Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan virus corona bergerak lebih cepat daripada vaksin. Lebih prihatin sekali negara miskin belum terpenuhi vaksin untuk rakyatnya. Ingat! Saat ini lebih dari 10 ribu orang di dunia meninggal dunia setiap hari karena terpapar Covid-19.

“Kita membutuhkan vaksin lebih banyak dan lebih cepat lagi. Sebab, saat ini virus bergerak lebih cepat daripada distribusi vaksin secara global," kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, Senin pekan ini.

Saat ini, pemberian vaksin merupakan masih menjadi solusi paling tepat mengurangi kasus Covid-19. Jadi wajar apabila vaksinasi dimasifkan lagi. Vaksin juga bukan satu-satunya cara mengalahkan virus. Sudah divaksin tapi rakyat masih juga harus menjaga protokol kesehatan. Mengapa? Sebab, Covid-19 sudah membentuk varian baru yang bertransmisi lokal.

Negeri ini menargetkan kekebalan komunal (herd immunity) pada awal tahun 2022. Makanya, Kementerian Kesehatan hingga ke daerah akan melakukan 600 ribu vaksinasi per hari. TNI/Polri akan melakukan 400 ribu vaksinasi per hari. Percepatan vaksinasi itu juga harus dibarengi dengan kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro di 34 provinsi. Dengan begitu, Indonesia segera terbebas pandemi!

Saatnya negara dan rakyat berkolaborasi menangani Covid-19 karena urusan kesehatan di atas segala-galanya. Seperti pembatasan jaga jarak, memakai masker, serta aturan batas kehadiran orang pada acara-acara keramaian tetaplah 20%—50%. Kasus harian yang meledak dalam sepekan ini, karena rakyat masih kucing-kucingan menjaga protokol kesehatan. Parahnya lagi, aparat masih tebang pilih dalam menegakkan peraturan.

Situasi wabah Covid-19 masih menyelimuti negeri ini harus menjadi bahan evaluasi dan renungan! Para pemimpin haruslah memberikan contoh yang baik agar anak bangsa ikut dalam barisan, bergotong royong, saling menjaga–tidak memburuk lagi kondisi pandemi saat ini.  ***

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait