#investasi

Pasca Covid-19, Indonesia Segera Jadi Tujuan Investasi

( kata)
Pasca Covid-19, Indonesia Segera Jadi Tujuan Investasi
dok Lampost.co

Jakarta (Lampost.co) -- Mantan Menteri Keuangan, Chatib Basri, menilai bahwa Indonesia akan menjadi tujuan investasi dari negara lain setalah wabah pandemi virus korona berakhir.

Hal itu dikarenakan negara lain mendapatkan pelajaran bahwa tidak tepat  menempatkan  investasi berlebih kepada satu negara saja.

"Salah satu pelajaran dari wabah ini yaitu ketergantungan investasi terlalu tinggi di Tiongkok," kata Chatib saat diskusi daring, Selasa (12/5).

Menurutnya dalam 1-2 tahun saat situasi kembali normal,  arus investasi tidak lagi ke Tiongkok karena telalu riskan bila kembali menaruh investasi kepada satu negara.

"Dan yang memiliki potensi menerima banyak investasi adalah Asia Tenggara termasuk Indonesia menjadi salah satu tujuan investasi," ungkapnya.

Chatib  memaklumi bila banyak perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi setelah terjadinya wabah korona. "Sebab prediksinya ada begitu banyak variable tidak bisa dikontrol," pungkasnya. 

Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth Ivan Jaya mengatakan bahwa saat ini  para ekonom memperkirakan akan terjadi kontraksi ekonomi dunia pada dua hingga tiga kuartal pertama pada tahun ini.

Namun, lanjut Ivan, para pembuat kebijakan di setiap negara sudah sepenuhnya memperhatikan perkembangan pandemi ini dan terlihat bersedia untuk melakukan apapun untuk membendung krisis.

Kebijakan stimulus moneter maupun fiskal yang sudah dikeluarkan oleh bank sentral dan pemerintah dari berbagai negara dianggap telah berhasil meredakan kepanikan dan volatilitas pasar keuangan global maupun domestik. 

"Semua kebijakan ini memberikan stimulus positif untuk mengimbangi kontraksi ekonomi yang akan terjadi," jelas Ivan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai kebijakan moneter mulai dari pemotongan suku bunga sebanyak 50 bps sepanjang tahun ini, melakukan intervensi pasar untuk stabilisasi rupiah dan obligasi pemerintah, hingga menurunkan Giro Wajib Minimum untuk meningkatkan likuiditas perbankan.

Dari sisi kebijakan fiskal, Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan stimulus senilai Rp405,1 triliun yang difokuskan kepada 4 hal yakni keselamatan dan kesehatan dengan tambahan anggaran sebesar Rp75 triliun, perlindungan sosial senilai Rp110 triliun, insentif ekonomi (perpajakan dan stimulus kredit) senilai Rp70,1 triliun serta Rp150 triliun untuk pembiayaan pemulihan ekonomi nasional. 

Stimulus tersebut setara dengan 2,41% terhadap PDB, yang merupakan jumlah yang besar jika dibandingkan dengan stimulus yang sebelumnya pernah diberikan pemerintah ketika krisis terjadi. 

Ivan menyebutkan, jika dibandingkan stabilitas dan ketahanan ekonomi Indonesia saat ini dengan kondisi pada saat krisis sebelumnya, baik pada tahun 2008 maupun 1998, bisa dibilang jauh lebih baik.  Kondisi fundamental Indonesia yang cukup baik ini juga dapat membuat para investor asing kembali melirik Indonesia sebagai salah satu negara emerging market yang menjadi tujuan investasi. 

Hal tersebut juga didukung dengan tingkat real yield Indonesia yang ditawarkan saat ini sekitar 5,45% dinilai - atraktif jika dibandingkan dengan negara emerging market lainnya. 

EDITOR

Media Indonesia

loading...

Berita Terkait

Komentar