pasarcovid-19

Pasar Tradisional Tanpa Protokol Kesehatan Bisa Menjadi Klaster Baru

( kata)
Pasar Tradisional Tanpa Protokol Kesehatan Bisa Menjadi  Klaster Baru
ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA Petugas pengelola pasar melakukan kampanye penggunaan masker dan jaga jarak di Pasar Jatinegara, Jakarta, kemarin. Sumber: https://mediaindonesia.com/read/detail/320054-pasar-tradisional-bisa-menjadi-klaster-baru

Jakarta (Lampost.co) -- Masih banyak pasar-pasar tradisional yang tidak menjalankan protokol kesehatan covid-19. Apalagi, pasar merupakan tempat masyarakat berdesakan dan berkumpul sehingga berpotensi mendukung cepatnya penyebaran virus korona.

Tidak sedikit penjual di pasar becek yang reaktif bahkan positif tertular virus tersebut. Beberapa diantaranya meninggal dunia. Keadaan semakin miris dan memprihatinkan ketika pedagang di pasar tradisional menolak upaya pemerintah untuk mencegah agar tidak ada korban yang berjatuhan.Di Pasar Rakyat Cileungsi, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, misalnya.

Sekelompok pedagang dilaporkan mengusir petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor yang berniat melakukan rapid test dan swab test. Hal itu terjadi Rabu, 10 Juni 2020 pagi. Video penolakan itu viral di media sosial sejak kemarin.

Sejatinya, kedatangan tim dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor itu ialah yang ketiga kalinya. Sebelumnya, tes dilakukan pertengahan Mei dan 31 Mei 2020.

Karena hasil dari dua tes itu ada yang positif, petugas pun kembali mengambil ulang spesimen. Namun, seperti tergambar dalam video yang viral itu, kedatangan mereka ditolak. Ujang Rasmadi, staf Humas dan Keamanan Pasar Rakyat Cileungsi, mengatakan pedagang menolak karena menilai ada kerancuan atas hasil tes.

Dia menyebut, pada uji 31 Mei 2020, 57 pedagang ikut serta. “Yang 57 ini hasilnya ada yang bilang 8, ada yang bilang 7 positif. Ini rancu. Pagi dites, sore beritanya timbul seperti itu,” tuturnya.

Ia juga membantah ada pedagang pasar yang tidak taat protokol kesehatan. “Yang pasti, saat ini kondisi Pasar Rakyat Cileungsi terpuruk. Setelah diketahui ada pedagang yang positif, nama pasar menjadi jelek. Pendapatan pedagang anjlok,” keluh dia, kemarin.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Mieke Kaltarina menjelaskan penolakan oleh pedagang pasar itu akibat kekurangpahaman masyarakat. Meski begitu, pihaknya akan terus melanjutkan upaya. Fakta empiris Fakta bahwa pasar bisa menjadi klaster baru penyebaran covid-19 sulit dibantah.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bogor, Syarifah Sopiah, membenarkan penambahan kasus covid-19 di pasar terus terjadi. “Yang positif dari klaster Pasar Rakyat Cileungsi semuanya 26,” ungkap Syarifah, kemarin.

Di pasar-pasar kota lainnya juga muncul klaster baru. Misalnya di Pasar Kumbasari Kota Denpasar, Pasar Tradisional Kebon Semai Kota Palembang, juga Pasar Kasomalang dan Pasar Cisalak di Kabupaten Subang. Meski ada pasar yang belum menerapkan protokol kesehatan, tidak sedikit pasar yang telah tertib.

Para pedagangnya siap dites cepat dan mematuhi protokol kesehatan. Misalnya di Pasar Rakyat Talang Banjar dan Pasar Rakyat Simpang Pulai, Jambi. Pedagang dan pembeli di pasar tersebut disiplin mengenakan masker.

Menurut data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), hingga kemarin sudah 439 pedagang dinyatakan positif covid-19. Dari jumlah itu, 27 orang meninggal. Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi Reynaldi Sarijowan menyebut pengawasan pemerintah atas pasar masih minim dan kesadaran pedagang dalam mematuhi protokol kesehatan juga masih kurang.

 

EDITOR

Media Indonesia

loading...

Berita Terkait

Komentar