#beritalampung#beritalampungterkini#gempabumi#bencaalam#geodesi#tragedicianjur

Pakar Sebut Kontur Tanah Lampung Berbeda dengan Cianjur

Pakar Sebut Kontur Tanah Lampung Berbeda dengan Cianjur
Peta Lampung yang memiliki sesar tarahan yang mana sesar ini melintasi Bandar Lampung. Dok Pakar Geodinamika Bumi


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pakar Geodinamika Bumi dari Jurusan Teknik Geodesi Universitas Lampung (Unila) Dr. Fajriyanto mengungkapkan jika kontur tanah di Lampung sangat berbeda dengan Kabupaten Cianjur. Gempa di Cianjur terpicu sesar aktif yang bergerak secara mendatar dengan arah mengiri (left lateral strike slip).

Berdasarkan data dari katalog BMKG (informasi awal), posisi gempa utama dan gempa susulan berada di bagian utara dari zona Sesar Cimandiri segmen Rajamandala dan Nyalindung. Namun, untuk bagian barat Indonesia terletak palung Sunda yang aktif secara tektonik.

Baca juga: Korban Jiwa Gempa Cianjur Bertambah Menjadi 268 Orang

Fajri menjelaskan beberapa gempa bumi megathrust telah terjadi di  dalam dua dekade terakhir. "Gempa bumi Sumatra bagian selatan pada 4 Juni 2000 dengan magnitudo 7,9 dan 13 Februari 2001 dengan magnitudo 7,3, dan gempa bumi Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 dengan magnitudo 9,2. Kemudian gempa bumi Nias 28 Maret 2005 magnitudo 8,7, gempa bumi Jawa 17 Juli 2006, gempa bumi Bengkulu 12 September 2007 magnitudo 8,5, dan gempa bumi Mentawai 25 Oktober 2010 dengan magnitudo 7,8," katanya, Selasa, 22 November 2022.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi tersebut merupakan contoh gempa bumi megathrust yang disebabkan proses subduksi antara Lempeng Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia (Blok Sunda) di sepanjang palung Sunda.

Dia menambahkan subduksi Lempeng Indo-Australia terhadap Blok Sunda di selatan dan barat daya Pulau Sumatra juga mengakibatkan terbentuknya sesar aktif di wilayah Pulau Sumatra yang dikenal sebagai Sesar Sumatra.

"Sesar Sumatra terbagi dalam beberapa segmen. Tiga segmen di antaranya berada di Lampung. Beberapa kejadian gempa yang diakibatkan segmen sesar itu, antara lain gempa bumi Liwa pada 24 Juni 1933 dengan magnitudo 7,3. Selain itu, gempa bumi Liwa 16 Februari 1994 dini hari dengan magnitudo 6,8 juga terjadi pada segmen ini," ujarnya.

Selain tiga sesar tersebut, di daerah Lampung juga masih terdapat Sesar Tarahan, yakni sesar yang melintasi Bandar Lampung yang padat penduduk. Sesar ini belum diketahui tingkat keaktifannya dan belum dimasukkan dalam peta gempa nasional.

"Beberapa gempa bumi di masa lampau yang terjadi pada 1852 dan 1913 diduga berasal dari sesar ini. Selain itu, beberapa gempa bumi di Bandar Lampung dengan magnitudo 2,5 dengan kedalaman 10 km yang terjadi pada 3 Mei 2022 juga diduga berasal dari aktivitas Sesar Tarahan, tapi masih membutuhkan banyak penelitian dan kajian yang lebih komprehensif," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait