#RAMADAN#BERITALAMPUNG

Pak Badut, Sembilan Tahun Jalani Profesi Penukar Uang

Pak Badut, Sembilan Tahun Jalani Profesi Penukar Uang
Pak Badut menjalani profesi penukar uang selama sembilan tahun -- Putri Purnama MTVL


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Idulfitri atau Lebaran menjadi momen bagi para pedagang musiman seperti para penyedia jasa penukaran uang. Seperti salah satu lapak milik Pak Badut, ia sudah sembilan kali lebaran membuka lapaknya di bawah jembatan penyeberangan orang (JPO) Bambu Kuning, Kota Bandar Lampung.

Sudah sepuluh hari Pak Badut membuka lapak kecilnya yang bersebelahan dengan lapak Pear Madu milik Ansori. Namun, pendapatannya hanya cukup untuk membiayai operasional pekerjaan tiap harinya. 

Ia mengatakan bahwa momen Lebaran masa pandemi membuat langganannya banyak tak mengunjungi lapak yang beratapkan terpal biru itu.

“Kalau tahun lalu Pandemi baru 3 bulan setelah dinyatakan kasus pertama, sekarang sudah setahun lebih dan wajar saja kalau berkurang yang melakukan penukaran uang,” ujarnya, Senin, 3 Mei 2021.

Selain berkurangnya para penukar uang, pandemi mengharuskannya untuk berkeliling ke kantor cabang pembantu (KCP) setiap bank untuk menukarkan uang. Tahun ini, Bank Indonesia tidak melayani penukaran uang dan KCP hanya melayani penukaran maksimal satu gepok (100 lembar) pada setiap pecahan Rp2 ribu, Rp5 ribu, dan Rp10 ribu.

“Setiap hari hanya boleh satu lok (gepok) saja di masing-masing bank. Jadi, kalau total sehari setiap bank itu maksimal menukar Rp1,7 juta,” katanya.

Meski lapaknya hingga sepuluh hari pertama dibuka masih sepi, Pak Badut masih akan membuka hingga H-1 Lebaran. Karena, menurutnya, penukaran uang mulai ramai pada H-5 jelang Lebaran.

“Sepi, hari ini saja hanya ada penukaran Rp2 juta itu artinya pendapatan saya hanya Rp80 ribu, untuk makan dan bensin keliling saja sudah habis. Tapi nanti lima hari sebelum Lebaran pasti ramai,” ujar dia. 

Foto : Putri Purnama / MTVL

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait