#BERITALAMPUNGSELATAN#BANJIR

Padi Puso di Bumirestu Tidak Bisa Diklaim AUTP

Padi Puso di Bumirestu Tidak Bisa Diklaim AUTP
Ilustrasi. FOTO: MI/RAMDANI


Kalianda (Lampost.co) -- Luas tanaman padi yang gagal panen (puso) akibat banjir beberapa pekan lalu di Desa Bumirestu, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, dipastikan tidak seluruhnya bisa diklaim Asuransi Usaha Tanaman Padi (AUTP) dari PT Jasindo. Pasalnya, lahan persawahan yang telah didaftarkan ke AUTP tersebut sudah ditanam ulang oleh petani ketika dipantau langsung oleh Tim Adjuster PT. Jasindo pekan lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, setidaknya ada 182 hektare tanaman padi yang didaftarkan ke AUTP. Di sisi lain, tanaman yang mengalami puso akibat banjir mencapai 140 hektare.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Bumirestu, Tukiyar, mengatakan, pada musim rendeng tahun ini terdapat 182 hektare tanaman padi yang tercover AUTP. Sedangkan, tanaman padi yang mengalami gagal panen seluas 140 hektare dan diusulkan klaim AUTP.

"Dari 182 hektare yang masuk dalam asuransi AUTP, ada 140 hektare tanaman yang mengalami puso akibat banjir yang terjadi satu bulan yang lalu. Sebanyak 140 hektare inilah yang diusulkan untuk klaim di PT. Jasindo,” ujarnya, Jum'at 25 Maret 2021.

Meski demikian, kata Tukiyar, tidak semua tanaman padi yang bisa diklaim di PT. Jasindo. Hal ini disebabkan hampir separuhnya lahan yang didaftarkan AUTP sudah ditanam ulang oleh petani dan dinilai telah menghilangkan bukti tanaman padi yang puso.

"Saat Tim Adjuster PT. Jasindo turun ke lokasi, mereka mendata langsung kalau ada lahan yang didaftarkan sudah ditanam ulang. Sesuai prosedur memang lahan jangan ditanami dulu sebelum Tim Adjuster turun," kata dia.

Di sisi lain, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (PPOPT) Kecamatan Palas, Syafrudin, membenarkan tidak semuanya tanaman padi yang puso di Desa Bumirestu bisa diklaim AUTP. Sebab, hampir separuhnya lahan sawah sudah ditanam ulang oleh petani.

"Sebenarnya peraturan ini sudah banyak dipahami petani di wilayah Palas, terutama yang masuk dalam asuransi AUTP. Tapi, yang membuat petani dilema yaitu pemantauan yang baru dilaksanakan tiga pekan setelah luas lahan puso dilaporkan kepada pihak PT. Jasindo. Jika harus menunggu, maka petani juga memiliki risiko yaitu kekeringan air atau ancaman hama akibat terlambat tanam, dan risikonya gagal panen dua kali,” kata dia.

Berdasar informasi dihimpun, dalam satu hektare klaim asuransi mendapatkan sebesar Rp6 juta. Jika luas tanaman padi yang sudah ditanami separuh dari tanaman puso atau diperkirakan mencapai 70 hektare, maka total yang tidak bisa diklaim senilai Rp430 juta. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait