#beritalampung#beritabandarlampung#ekbis

Omzet Kian Menurun akibat Sepi Pengunjung, Puluhan Toko Pasar Bambu Kuning Tutup

Omzet Kian Menurun akibat Sepi Pengunjung, Puluhan Toko Pasar Bambu Kuning Tutup
Eskalator Pasar Bambu Kuning tidak berfungsi. Pengunjung tampak lengang dan sejumlah toko tutup. Foto: Fitri Junaini


Bandar Lampung (Lampost.co): Pasar Bambu Kuning di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Kepala Tiga, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, yang disebut-sebut sebagai ikon dan wajah pasar Kota Bandar Lampung kini sepi pengunjung.

Aan Suanda (51) selaku penagih retribusi pasar selama 25 tahun menjelaskan bahwa Pasar Bambu Kuning berdiri sejak awal 1989. Jumlah toko di lantai dasar sebanyak 294 toko, sementara data terakhir ada 83 toko yang tutup sejak 2018 hingga awal pandemi Covid-19 melanda Tanah Air.

Dia menerangkan fasilitas di Pasar Bambu Kuning mulai rusak pada tahun 2015, seperti eskalator dan AC. "Eskalator hanya hidup setahun saja di awal pembangunan dan beberapa unit AC pun mati. Bukan kami tidak ingin memperbaiki semua fasilitas, hanya saja para pedagang tidak bisa mendukung untuk perbaikan," ujarnya, Kamis, 8 Desember 2022.

"Untuk fasilitas semua sudah pada rusak. Para pedagang tidak bisa mendukung. Mereka ingin fasilitas yang layak tapi tidak mau bayar dan akhirnya listrik banyak yang dicabut," lanjutnya.

Dia mengungkapkan Pasar Bambu Kuning pada awal renovasi pembangunan dipadati oleh masyarakat. Namun memasuki awal tahun 2018 saat awal mula munculnya belanja online, masyarakat beralih tidak mengunjungi pasar.

"Dulu pengunjung yang datang bisa 100 persen padat dan untuk saat ini hanya 20 persen. Sebelum ada belanja online ramai sekali yang datang ke pasar ini. Omzet pedagang juga bisa mencapai Rp1-5 juta per harinya. Kalau untuk saat ini benar-benar kosong pengunjung hanya mampir lihat-lihat saja tidak membeli. Maka dari itu banyak toko yang tutup dan beralih jualan online, lebih praktis juga kan," katanya.

Baca juga: Penumpang Angkutan Darat Diprediksi Meningkat 30% pada Nataru

Masroni, selaku petugas keamanan Pasar Bambu Kuning yang mulai bekerja sejak 2005, mengatakan fasilitas di Pasar Bambu Kuning sebelum pandemi sudah terbengkalai. 

"Eskalator mati sudah lama banget. Lagi pula kalau eskalator hidup kasian yang dagang di bawah terlalu berisik dan boros listrik juga," ujarnya.

Dia mengatkan pengunjung yang datang biasanya yang banyak yang mencari suvenir pernikahan, toko emas, dan pakaian pesta (kebaya). 

"Yang masih banyak dicari orang sih kebanyakan suvenir pernikahan, kebaya, sama emas. Tapi toko emas disini juga sudah banyak yang tutup karena udah sepi," kata dia.

Sementara itu, Chandra (59) pemilik toko suvenir pernikahan Bayang Danau, yang berjualan sejak 2002 mengatakan saat pandemi omzetnya anjlok hingga 80 persen. "Untuk sekarang setelah pandemi cukup stabil dan mulai pulih kembali," kata dia.

Menurutnya kalau ketersediaan barang selalu ada dan lengkap pasti pengunjung banyak berdatangan dan selalu banyak yang membeli. 

Banyak toko-toko yang tutup tidak membuat Chandra takut untuk tetap berjualan. "Saya ini bukan pedagang baru. Jadi hanya masih bisa bertahan sampai saat ini. Sebelumnya saya jualan aksesoris imitasi di lantai bawah karena toko yang dibawah saya sewakan. Jadi saya pindah ke atas dagang suvenir pernikahan," ujarnya.

Dia berharap Pasar Bambu Kuning bisa kembali seperti dulu yang ramai dan menjadi pusat belanja utama masyarakat. (Fitri Junaini dan Ismi Chintya Putri)

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait