#narkoba#kriminal#beritalampung

Oknum PNS PUPR Divonis 14 Tahun Penjara Atas Kasus Sabu 1 Kg

( kata)
Oknum PNS PUPR Divonis 14 Tahun Penjara Atas Kasus Sabu 1 Kg
Suasana persidangan kasus narkoba di Pengadilan Negeri Kelas IA, Tanjungkarang. Foto: Febi Herumanika

Bandar Lampung (Lampost.co): Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang memvonis terdakwa Joni Efendi Pasiwaratu (45) oknum pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian PUPR Lampung dengan pidana penjara selama 14 tahun atas kepemilikan narkoba jenis sabu sebanyak 1 kg lebih, pada sidang vonis, Selasa, 29 September 2020.

Hakim Ketua Dina Pelita Asmara didampingi hakim anggota Ismail Hidayat dan Jhony Butar Butar mengatakan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 112 Ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Menjatuhkan hukum terhadap terdakwa Joni Efendi Pasiwaratu dengan pidana penjara selama 14 tahun serta denda Rp1 miliar dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayarkan maka diganti dengan kurungan selama 4 bulan," ujar Hakim.

Vonis majelis hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa dimana pada sidang sebelumnya jaksa menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan.

Menanggapi putusan tersebut, kuasa hukum terdakwa David Sihombing dan Edi Wahyudin mengatakan tim kuasa hukum langsung menyatakan banding karena menurut kuasa hukum, fakta yang terungkap dalam sidang itu tidak dimunculkan dalam putusan seperti halnya pemilik barang bukti adalah DPO dan ponsel yang disita adalah ponsel DPO. 

"Logikanya kasus ini berdiri sendiri tidak ada perbuatan bersama-sama, makanya pemilik barang bukti adalah DPO yang berkomunikasi," katanya.

Mendengar putusan 14 tahun terhadap suaminya, Fitriyani menangis sembari mengatakan suaminya tidak bersalah, karena sejak dari awal penyidikan barang bukti yang dimaksud dalam persidangan adalah milik DPO.

"Barang bukti yang dimaksud dalam sidang pun tidak pernah dihadirkan, dimana barang buktinya. Supaya lebih jelas kasus ini saya mohon buka CCTV tempat penangkapan, disitu akan terjawab siapa yang bersalah sebenarnya," kata istri terdakwa sembari terisak.

Perbuatan terdakwa bermula pada Selasa (11 Februari 2020) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu, terdakwa Joni sedang berada dirumahnya, lalu datang Siswanto alias Iwan (DPO) mengajak terdakwa untuk mengambil narkotika jenis sabu dari orang suruhan Firman (DPO) pada salah satu hotel di Kota Bandar Lampung.

"Jon, kita ngambil barang titipan sabu yok di Wayhalim. 'Berapa banyak barangnya itu wan? dimana ngambilnya?' jawab terdakwa, Siswanto menjawab 'nanti kita ambil di Wayhalim. Tapi nunggu Firman hubungi dulu'," kata Jaksa membacakan tuntutannya.

Pukul 19.00 WIB, Firman menelpon terdakwa Joni yang mengatakan 'Jon lu sama Iwan sekarang ambil barang sama orang suruhan gua ya di kamar hotel lantai atas di Wayhalim'. Terdakwa pun menjawab 'oke deh'. 

"Terdakwa bersama Siswanto pergi ke hotel di Wayhalim, sampai ditempat tersebut sekitar pukul 19.45 WIB terdakwa bertemu dengan orang suruhan Firman di lantai atas," kata Jaksa.

Kemudian orang tersebut menyerahkan sebuah tas berwarna cokelat dan terdakwa terima. Lalu terdakwa selempang kan, kemudian terdakwa turun ke lantai bawah untuk menemui Siswanto yang menunggu terdakwa di parkiran hotel. 

Sesampainya terdakwa di parkiran hotel dan belum sempat bertemu dengan Siswanto, datang Tim Opsnal Subdit III Ditresnarkoba Polda Lampung untuk melakukan penangkapan terhadap terdakwa. 

Polisi melakukan penggeledahan terhadap terdakwa dan menemukan barang bukti berupa 2 paket besar narkotika jenis sabu di dalam tas berwarna cokelat yang terdakwa gunakan.

Selanjutnya terdakwa beserta barang bukti dibawa ke Kantor Ditresnarkoba Polda Lampung untuk pemeriksaan lebih lanjut.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...

Berita Terkait

Komentar