#Korupsi#korupsijalan

Oknum Dinas Bina Marga Lampung Didakwa Jual Beli Proyek

Oknum Dinas Bina Marga Lampung Didakwa Jual Beli Proyek
Ilustrasi proyek pengerjaan jalan di Lampung. Lampost.co/Sukisno


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Hasrul alias Ujang (52), Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Dinas Binamarga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung menjalani sidang dakwaan perkara penipuan jual beli proyek di PN Kelas IA Tanjungkarang.

Ia didakwa melanggar Pasal 378 KUHPidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana, dan dakwaan Pasal 372 KUHPidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo Pasal 64 ayat (1) KUHPidana tentang penipuan dan penggelapan.

Pada Desember 2019, Ujang menjanjikan korban, yakni Dafriansyah pekerjaan proyek pada Dinas BMBK senilai Rp5,7 miliar dengan cara menyetorkan uang sekitar 12% dari besaran nilai proyek.

"Bahwa atas perbuatan terdakwa Hasrul alias Ujang bersama dengan saksi Nurbuana (eks Sekretaris Dinas BMBK), saksi (korban) Dafriansyah mengalami kerugian Uang sebesar Rp648 juta," ujar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nilam Agustini Putri, Senin, 5 Juli 2021. 

Baca: Lampung Butuh Rp2,5 Triliun untuk Perbaikan Jalan

 

Terdakwa menawari korban proyek pengerjaan jalan dari Dinas BMBK. Keduanya pun beberapa kali bertemu untuk membahas proyek tersebut. 

"Proyek pengerjaan jalan yang dikeluarkan Provinsi Lampung di beberapa kabupaten milik saksi Juprius (Eks Calon Wakil Bupati Way Kanan) dengan nilai perkerjaan sekitar senilai Rp150 milyar," paparnya.

Korban ditawari beberapa item proyek tersebut senilai Rp37 miliar. Saat korban meminta dipertemukan dengan orang dari Dinas BMBK, terdakwa berjanji akan mempertemukannya dengan Nurbuana.

Beberapa hari kemudian, korban melalui rekannya, Yudi bertemu dengan Ujang dan Nurbuana di Kedai Kopi Aceh di Rajabasa. Hasil pertemuan tersebut, Nurbuana dan Ujang meyakinkan proyek yang ditawarkan Ujang senilai Rp37 miliar terdiri dari lima paket.

Pertemuan pun kembali dilakukan di Dunkin Donuts Kedaton antara Yudi dan rekannya, Idris dengan Nurbuana.

"Saat pertemuan, saksi Yudi dan ldris Hadi menanyakan kembali tentang kebenaran proyek yang ditawarkan terdakwa. Saksi Nurbuana pun kembali menyakinkan bahwa proyek yang ditawarkan terdakwa milik saksi Juprius tersebut benar ada dan pekerjaan tersebut akan dilaksanakan pada April sampai Mei 2020," lanjut Jaksa.

Lima titik proyek tersebut adalah pembangunan ruas jalan yang terletak di Padang Cermin Teluk Kiluan Kabupaten Pesawaran senilai Rp. 22.827.587.995, ruas jalan di Kali Rejo Kabupaten Pringsewu senilai Rp5.726.072.921,  ruas jalan di Daya Murni Gunung Batin Kabupaten Tulang Bawang Barat senilai Rp5.583.815.095, pemeliharaan ruas jalan di Jabung Simpang Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur senilai Rp2.020.852.408, dan pemeliharaan ruas jalan di Metro Tanjung Kari Kabupaten Lampung Timur senilai Rp1.010.426.244.

Pada Jumat, 31 Januari 2020, Dafriansyah bertemu dengan Ujang di rumah Yudi, di Way Halim. Kemudian terdakwa meminta fee 12%  dari proyek yang bisa dikerjakan terlebih dahulu senilai RpRp 5,7 miliar.

"Uang diserahkan secara bertahap," paparnya.

Nahasnya, proyek tersebut tak kunjung didapatkan korban. Setelah dicek pada Agustus 2020 ternyata proyek tersebut sudah dilaksanakan pihak lain. Korban meminta uangnya dikembalikan dan terdakwa membuat surat pernyataan pengembalian pada 10 September 2020 dengan janji dikembalikan pada 30 September 2020.

"Uang tersebut tak kunjung dikembalikan hingga terdakwa dilaporkan ke polisi," katanya.

Sementara, Majelis Hakim Efiyanto mengatakan, sidang agenda pemeriksaan saksi akan dilanjutkan pada Senin, 12 Juli 2021.

"Sidang pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi," kata hakim. 

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait