kasuspencabulanberitalampung

OB Pencabul Siswi SMA Dituntut 80 Bulan Penjara

OB Pencabul Siswi SMA Dituntut 80 Bulan Penjara
Tiga kuasa hukum terdakwa kasus pencabulan terhadap siswi SMA. Lampost.co/Febi


Bandar Lampung (Lampost.co): Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung menuntut terdakwa IS, 34, pidana penjara selama 6 tahun dan 8 bulan penjara. IS diduga kuat mencabuli WA, 17.

Tuntutan terhadap IS dibacakan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu, 11 November 2020. Selain pidana penjara, Jaksa menuntut IS membayar denda Rp60 juta subsider 6 bulan penjara. 

Jaksa Eka Aftarini dalam tuntutannya mengatakan warga Kecamatan Sungkai Utara, Lampung Utara, itu terbukti secara sah meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pasal 81 Ayat (2). "Meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa IS dengan pidana penjara selama 6 tahun dan 8 bulan penjara, serta denda Rp60 juta subsider 6 bulan, dengan perintah tetap ditahan," kata Eka. 

Jaksa Eka Aftarini menjelaskan perbuatan terdakwa IS berawal pada perkenalan di bulan Januari 2020 melalui media sosial Facebook. Keduanya pun berpacaran pada 7 Juni 2020 dan intens berkomunikasi dengan hubungan baik-baik saja. Dua hari setelah itu, korban mengirim foto tidak pantas kepada terdakwa. IS bekerja sebagai office boy (OB) di sekolah korban.

"Korban memang awalnya ingin memancing terdakwa, namun seketika korban sadar atas apa yang dilakukan korban itu salah. Korban pun langsung menarik pesan tersebut dan menghapusnya," kata Jaksa.

Ternyata kata Jaksa, foto tidak pantas itu disimpan oleh terdakwa. Korban meminta maaf kepada terdakwa dan dimaafkan. Keduanya tetap menjalin komunikasi seperti sediakala. Lalu terdakwa membujuk korban agar korban mau melakukan hubungan suami istri dengan terdakwa.

"Ayok dek, buat apa cuma ngirim foto doang," kata Jaksa membacakan dakwaanya. 

Korban menolak ajakan itu dengan alasan masih kecil. Terdakwa mengatakan,"Tenang aja dek, saya sayang sama kamu, saya bakal tanggung jawab dan bakal nikahin kamu," kata Jaksa dalam dakwaanya.

Mendapat bujukan dari terdakwa, korban pun menjawab mau melakukan hubungan suami istri asalkan hanya sebatas wajar (bagian atas) saja. "Terdakwa tidak terima dan terdakwa mengancam akan menyebarkan foto korban ke pihak sekolah korban. Korban merasa takut akhirnya korban menuruti keinginan terdakwa," kata Jaksa.

Selanjutnya pada 20 Juni 2020 sekitar jam 17.00 WIB korban sudah berjanjian dengan terdakwa untuk bertemu di jalan. Korban menangis dan tiba sebuah indekos.

"Keduanya ngobrol di kamar kosan tersebut dan terdakwa melucuti pakaian korban saat itu pencabulan terhadap korban terjadi," kata Jaksa.

Usai melakukan hubungan badan layaknya suami istri, terdakwa mengajak korban makan, namun korban tidak mau. "Di perjalanan terdakwa berbicara kepada korban, adek tenang aja gak usah takut. Abang pakai kondom, lagi pula Abang gak ngeluarin apa-apa. Kalau terjadi apa-apa Abang juga bakal tanggungjawab dan nikahin adek," kata Jaksa menirukan ucapan terdakwa.

Korban diantar sampai depan gang rumah dan komunikasi tetap lancar. Lalu korban menyuruh terdakwa untuk bertemu dengan orang tua korban, namun terdakwa selalu saja ada alasannya sehingga korban menceritakan juga kepada orang tuanya apa yang korban alami dan itu membuat orangtuanya tidak terima sehingga korban diperiksa polisi.

Berdasarkan visum et repertum 357/2566 AVII.022.1/VI2020 nomor rekam medik: 36.63.30 tertanggal 30 Juni 2020 di RSUD Abdul Moeloek menyatakan bahwa pada pemeriksaan ditemukan luka robek lama pada selaput dara akibat kekerasan tumpul, tidak ditemukan luka-luka, dan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh lainnya.

Tim kuasa hukum terdakwa, masing-masing Yogi Saputra, Ahmad Kurniadi, dan Firman dari Pos Bantuan Hukum PBH Peradi, meminta Majelis Hakim menjatuhkan pidana seadil-adilanya. Hakim tak boleh mengabaikan fakta-fakta dalam persidangan.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait