#mustafa#korupsi

Nunik Bantah Terima Rp1 Miliar dari Mustafa

Nunik Bantah Terima Rp1 Miliar dari Mustafa
Chusnunia Chalim memberikan keterangan sebagai saksi dalam perkara suap mantan Bupati Lamteng, Mustafa. Lampost.co/Abu


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara suap atas terdakwa mantan Bupati Lampung Tengah, Mustafa, di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungkarang, Kamis 4 Februari 2021.

Dalam keterangan dihadapan majelis hakim, Nunik, sapaan Chusnunia, membantah tidak pernah menerima uang Rp1 miliar dari Midi Iswanto yang disebut sebagai mahar politik Mustafa untuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). "Saya tidak pernah menerima uang Rp1 miliar dari Midi," ujarnya.

Pernyataan itu bertentangan dengan keterangan saksi Midi Iswanto yang mengembalikan uang Rp14 miliar kepada Mustafa. Sedangkan Rp4 miliar sisanya diberikan kepada Nunik sebesar Rp1 miliar ditambah Rp150 juta. Semua itu dituliskan dalam buku catatannya yang diserahkan ke penyidik KPK.

Dia mengaku awal mengenal Mustafa sejak 2012 saat duduk di kursi di DPR RI dan sebagai Wakil Sekjen DPP PKB. Pada 2017, Mustafa mengadakan pertemuan internal partai membahas dukungan kepada calon yang akan diusung pada Pemilihan Gubernur (Pilgub). Pada pertemuan itu dihadiri pula Midi Iswanto, Khaidir Bujung, Ibrahim, Okta Wijaya.

"Pada kesempatan itu juga dibahas tentang tugas untuk menemui para calon yang akan maju dalam Pilgub," kayanya.

Midi Iswanto bertugas membangun komunikasi dengan Mustafa, sedangkan Nunik berupaya berkomunikasi dengan Ridho Ficardo. Setelah itu masing-masing melaporkan hasil pendekatan ke calon Gubernur dan Midi menyampaikan jika Mustafa sangat serius dan berharap didukung PKB.

"Pada waktu itu yang sempat bertemu saya adalah Arinal dan Mustafa. Mustafa pernah bertanya sama saya soal Khaidir Bujung apakah pengurus DPW PKB," kata Nunik.

Keseriusan Mustafa itu kemudian ditunjukkan untuk dapat bertemu langsung dengan Muhaimin Iskandar selaku Ketua Umum. Keinginan tersebut terwujud dan Mustafa menyampaikan maksudnya. Namun, hal itu dijawab datar Muhaimin Iskandar dalam pertemuan singkat itu.

"Waktu itu Muhaimin bertanya pada saya apakah ingin maju di Pilgub dan saya jawab tidak," katanya.

Nunik juga mengaku tidak terlibat dalam urusan teknis administrasi pencalonan. Dia hanya sebatas membantu komunikasi dengan para calon ke DPP. Meski sebelumnya pernah diminta kesediaannya untuk membantu memuluskan rekomendasi calon yang diusung Midi dan Khaidir.

"Karena tak kunjung ada kejelasan soal dukungan partai dalam Pilgub, saya cenderung pasif dan fokus dengan pekerjaan saya di Lampung Timur," kata dia.

Untuk itu, dia tidak mengetahui adanya uang yang diserahkan Mustafa kepada Midi Iswanto dan Khaidir Bujung. Sementara dia mengetahui Okta Wijaya ketika menjelang Pilgub.

"Okta menyampaikan pesan Midi dan Khaidir untuk kembalikan uang Mustafa. Tapi saya jawab tidak bisa membantu karena saya tidak pernah merasa memakai uang dari Mustafa," ujarnya.

Di akhir 2017, Mustafa juga pernah meminta uangnya dikembalikan. Untuk itu dia persilahkan agar minta kepada orang yang menerima uang tersebut. Sebab, Midi dan Khaidir bukan merupakan utusannya, tetapi merupakan kesepakatan bersama untuk mendekati calon untuk Pilgub.

Sementara terkait uang Rp150 juga dari Midi, Nunik menjawab uang tersebut dipinjamnya untuk pembangunan kantor DPC Lampung Tengah. Uang diserahkan kepada Slamet Anwar selaku panitia dan Ketua DPC. "Sudah saya kembalikan Rp100 juta kepada Midi," kata dia.

 

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait