petanibps

Nilai Tukar Petani Naik 0,49 Persen

( kata)
Nilai Tukar Petani Naik 0,49 Persen
Ilustrasi. Dok Lampost.co


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) --  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) Lampung pada Juli 2020 sebesar 92,99 atau meningkat 0,49 persen dibandingkan dengan kinerja bulan sebelumnya.

Kepala BPS Lampung Faizal Anwar mengatakan, untuk masing-masing subsektor tercatat subsektor Padi dan Palawija (NTP-P) sebesar 93,28, Hortikultura (NTP-H) 96,18, Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) 89,12, Peternakan (NTP-Pt) 101,80, Perikanan Tangkap 101,67, dan Perikanan Budidaya 99,82.

Sementara itu beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, antara lain pada komoditas subsektor tanaman pangan, perkebunan, peternakan, dan perikanan tangkap, seperti, kopi, gabah, karet, lada, kelapa sawit, ternak besar, ternak kecil, unggas, dan beberapa jenis ikan tangkap. 

"Kalau dari kenaikan ini ada beberapa faktor, mungkin cuaca dan musim panen," kata Faizal Anwar dalam siaran persnya, Selasa, 4 Agustus 2020.

Sedangkan subsektor hortikultura dan perikanan budidaya mengalami penurunan, antara lain pada beberapa jenis sayuran dan buah-buahan, dan beberapa jenis ikan budidaya.

Sementara itu, BPS catat daerah pedesaan alami inflasi 0,04 persen karena adanya kelompok indeks harga alami kenaikan.

"Pada Juli 2020 daerah perdesaan di Provinsi Lampung mengalami inflasi sebesar 0,04 persen yang disebabkan oleh naiknya beberapa kelompok indeks harga. Secara rinci yaitu, kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,33 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,30 persen, kesehatan naik sebesar 0,31 persen," ujar dia. 

Selanjutnya, transportasi mengalami kenaikan sebesar 0,34 persen, pendidikan mengalami kenaikan sebesar 0,39 persen, penyediaan makan dan minuman/restoran naik sebesar 0,20 persen, dan perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,11 persen. 

"Dari kelompok yang paling berpengaruh inflasinya adalah pendidikan. Seperti yang diketahui memang memasuki masa ajaran baru sekolah banyak keperluan sekolah yang harus dipenuhi," ujarnya. 

Selain itu, disusul dengan kelompok transportasi yang menjadi pilihan utama masyarakat di daerah pedesaan yang membutuhkan kendaraan dalam melaksanakan aktivitas harian. Serta ditengah COVID-19 juga kelompok kesehatan berpengaruh.

"Dua kelompok itu (transportasi dan kesehatan) juga cukup besar persentasenya. Karena yang saat ini paling dibutuhkan masyarakat," jelasnya.

Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan, lanjut dia, adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau turun sebesar 0,08 persen, perumahan, alat listrik, dan bahan bakar lainnya turun sebesar 0,01 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,07 persen, dan kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya turun sebesar 0,18 persen.

"Penyebab dari turun ini kemungkinan masyarakat sedang befokus pada pendidikan dan kesehatan," katanya.

EDITOR

Winarko

loading...


Berita Terkait



Komentar