#pertanian#petani

Nilai Tukar Petani Lampung Lebih Unggul dari Provinsi Lain

Nilai Tukar Petani Lampung Lebih Unggul dari Provinsi Lain
Petani sedang memanen padi. Antara Foto


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Lampung mengalahkan sebagian provinsi lain di Indonesia. NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. 

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat, per Maret 2021, NTP subsektor tercatat padi dan palawija/NTP-P (89,61), hortikultura/NTP-H (99,03), tanaman perkebunan Rakyat/NTP-Pr (106,60), peternakan/NTP-Pt (98,88), perikanan tangkap (104,51), dan perikanan budidaya (100,62). 

“Sedangkan NTP Provinsi Lampung tercatat sebesar 97,85. Maret 2021, subsektor yang mengalami kenaikan indeks antara lain tanaman perkebunan rakyat, peternakan, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya,” kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Provinsi Lampung, Riduan, Jumat, 2 April 2021. 

Baca: Harga Gabah di Tingkat Petani Turun 14,39 Persen

 

NTP yang mebihi nilai 100 menunjukkan bahwa pada periode tertentu lebih baik dibandingkan NTP pada tahun dasar. Dengan kata lain, petani mengalami surplus.

Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik dan menjadi lebih besar dari pengeluarannya.

Namun terdapat juga subsektor mengalami penurunan indeks, yaitu komoditas subsektor tanaman padi dan palawija dan hortikultura, seperti pada harga beberapa jenis palawija dan sayur-sayuran. 

“Dari 34 provinsi yang diamati perkembangan harganya pada Maret 2021, ada 22 provinsi mengalami kenaikan NTP, dan 12 provinsi lainnya mengalami penurunan,” katanya.

Pada Maret 2021 indeks konsumsi rumah tangga daerah perdesaan di Provinsi Lampung mengalami turun sebesar 0,20 persen yang disebabkan penurunan kelompok indeks harga makanan, minuman, dan tembakau, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. 

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turun sebesar 0,44 persen, kelompok pakaian dan alas kaki naik sebesar 0,31 persen, perumahan, alat listrik, dan bahan bakar lainnya naik sebesar 0,04 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik sebesar 0,31 persen, kesehatan naik sebesar 0,13 persen,” ujarnya.

Sementara itu transportasi mengalami kenaikan sebesar 0,06 persen, informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,02 persen, rekreasi, olahraga dan budaya mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen, penyediaan makanan dan minuman/ restoran naik sebesar 0,03 persen, dan perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 0,37 persen.

“Sedangkan kelompok yang tidak mengalami perubahan adalah kelompok pendidikan,” tutup Riduan.

EDITOR

Sobih AW Adnan

loading...




Komentar


Berita Terkait