#nigeria#penculikan

Nigeria Tolak Bayar Tebusan untuk 200 Siswa yang Diculik

Nigeria Tolak Bayar Tebusan untuk 200 Siswa yang Diculik
Sebuah kelas yang kosong setelah siswa diculik kelompok bersenjata di Nigeria. Foto: AFP


Abuja (Lampost.co) -- Pihak berwenang Nigeria mengatakan pada Selasa bahwa sekitar 200 anak telah ditangkap dalam penculikan sekolah terbaru di utara. Tetapi mereka mengesampingkan mengamankan kebebasan mereka dengan membayar uang tebusan.

 

“Polisi berusaha melacak rute yang diambil para penculik dengan anak-anak, yang ditangkap dalam penggerebekan di sebuah sekolah Islam di negara bagian Niger pada Minggu,” ucap seorang pejabat, seperti dikutip dari France24, Kamis 3 Juni 2021.

“Sebuah pesawat tempur juga terbang di atas daerah itu untuk mencoba menemukan mereka,” kata pejabat itu.

 

Seperti diketahui sebelumnya sekelompok orang bersenjata dengan sepeda motor menyerang kota Tegina pada Minggu. Satu orang ditembak mati dalam serangan itu dan orang kedua terluka parah. Pemerintah setempat menyebutkan jumlah siswa yang diculik sekitar 200 orang.

Wakil Gubernur Ahmed Mohammed Ketso mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah negara bagian sedang mengejar para penculik dan upaya sedang dilakukan untuk mengidentifikasi mereka.

"Kami tidak membayar uang tebusan kepada para penculik. Kami mencoba bernegosiasi untuk melihat bagaimana kami bisa membawa mereka kembali dengan selamat," tegasnya.

Lebih dari 700 siswa telah diculik untuk tebusan sejak Desember oleh kelompok bersenjata setelah penggerebekan di sekolah dan universitas di Nigeria utara. Pemerintah menyangkal membayar uang tebusan tetapi secara luas diyakini telah melakukannya.

Presiden Muhammadu Buhari pada Selasa mengutuk penculikan tersebut selama briefing tentang insiden tersebut dan mendesak badan-badan keamanan untuk mengamankan pembebasan segera anak-anak.

Sementara Ketso menambahkan, petugas polisi telah ditempatkan di sekolah-sekolah di wilayah tersebut sebagai langkah pengamanan yang ditingkatkan.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait