Koronacoronavirus

Ngatimin Jajakan Tapai Hingga Pelosok di Tengah Pandemi

( kata)
Ngatimin Jajakan Tapai Hingga Pelosok di Tengah Pandemi
Di bawah terik panasnya matahari, pria paruh baya itu terengah-engah mendorong sepeda ontel miliknya yang melintasi ruas jalan poros Kecamatan Palas, Lampung Selatan. Armansyah

KALIANDA (Lampost.co) -- Di bawah terik panasnya matahari, pria paruh baya itu terengah-engah mendorong sepeda ontel miliknya yang melintasi ruas jalan poros Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Jumat, 8 Mei 2020.

Sesekali pria yang mengenakan peci warna putih itu berteriak "Pe... Tape... Tape..." Begitu keseharian, Ngatiman (52) warga Desa Kalirejo, Kecamatan Palas, yang tengah menjajakan tapai singkong miliknya.

Di tengah pandemi virus korona atau Covid-19 ini, Ngatimin harus lebih ekstra untuk menjajakan tapai singkong hasil produksi sendiri. Betapa tidak, bapak lima anak itu terpaksa berkeliling hingga ke pelosok desa.

"Kalau pembeli justru banyak yang nyari. Memang kebetulan lagi bulan puasa. Tapi, kalau mau cepat habis, ya mau enggak mau keliling supaya terjual habis," kata suami dari Jubaedah itu.

Menurutnya, dalam dua hari sekali ia mampu memproduksi tapai singkong dua keranjang atau sebanyak 30 kg. Sedangkan, bahan singkong tersebut merupakan tanaman miliknya yang dikelola untuk tapai.

"Kalau pembuatan tapai singkong itu bisa memakan waktu selama dua hari dua malam. Karena harus dipermentasikan dulu," kata dia.

Dalam setiap penjualan tapai sebanyak 30 kg itu, kata Ngatimin, ia mampu mendapatkan penghasilan bersih sebesar Rp300 ribu dalam satu kali penjualan. Sedangkan, untuk modal hanya mengeluarkan sebesar Rp50 ribu.

"Saya jual tapai tidak mematok harga. Berapapun yang dibeli, saya terima. Yang penting jualan saya laku. Tapi, ditengah pandemi Covid-19 harus ekstra keliling, berangkat dari jam 8.30 hingga 14.00 Wib," kata dia. 

EDITOR

Winarko

loading...

Berita Terkait

Komentar