#kekerasanseksual#humaniora#nasdem#kriminal

NasDem Soroti Kasus Kekerasan Seksual di Pringsewu

NasDem Soroti Kasus Kekerasan Seksual di Pringsewu
Foto: Dok


Pringsewu (Lampost.co): Peduli terhadap kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Pringsewu, Fraksi NasDem Provinsi Lampung gelar diskusi terbatas dengan mengusung tema 'Membangun Sensitivitas dan Solidaritas Terhadap Korban Kasus Kekerasan Seksual'.

Diskusi yang digelar di ruangan Fraksi NasDem tersebut dihadiri oleh Ketua Fraksi NasDem Provinsi Lampung Siti Rahma, Anggota Komisi V NasDem Lampung Asih Fatwanita, Ketua serta Anggota Garnita Malahayati Provinsi Lampung, Senin, 31 Mei 2021, dengan menghadirkan narasumber Psikolog dari Universitas Lampung Ratna Widiastuti, dan Bidang Advokasi Rumah Perempuan dan Anak (RPA) Pringsewu Monica Monalisa.

Menanggapi kasus kekerasan seksual yang terjadi di Kecamatan Gadingrejo yang sempat selesai di tingkat rembuk pekon, Siti Rahma menegaskan kasus kekerasan seksual itu harus diproses hukum.

"Masalah ini tidak bisa ditoleransi, dan harus diusut sampai tuntas, agar pelaku mendapatkan efek jera. Kami juga akan memberikan penanganan khusus bagi korban agar diberikan kekuatan agar mereka bisa melaporkan kasus ini ke penegak hukum," ungkapnya.

Ia mengatakan, diperlukan strategi khusus dalam penanganan kasus kekerasan seksual. Diantaranya adalah memberikan pendampingan psikologis terhadap korban dan keluarga korban.

"Karena pasti akan terkendala ketika mereka berhadapan dengan hukum. Kita juga harus meminta dukungan dari pihak aparatur desa, karena mereka harus bertanggung jawab secara moral juga dengan korban yang tinggal di wilayah itu. Apalagi ini pelaku dan korban tinggal dalam desa yang sama. Jadi diperlukan super kerja keras agar aparat desa bisa mendukung korban untuk mencari keadilan," tambahnya.

Siti juga menegaskan, dalam Minggu ini , pihaknya berencana akan turun ke pekon tersebut dan langsung berinteraksi terhadap korban kekerasan seksual.

Sementara itu, Psikolog Unila Ratna Widiastuti dalam pemaparannya mengatakan, penegak hukum maupun pendamping, harus diberi pemahaman dalam penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak.

"Semua korban kekerasan seksual itu pasti merasakan trauma apapun bentuknya. Jadi saya tegaskan tidak ada yang namanya korban pelecehan seksual itu menikmati perlakuan tidak senonoh yang dialaminya," ungkapnya.

Ratna juga memberikan masukan terhadap lembaga-lembaga pendamping yang saat ini sedang turun mendampingi korban kasus kekerasan seksual di Kecamatan Gadingrejo untuk mempersiapkan senjata sebelum masuk ke medan perang.

"Konselor harus punya empati, harus punya alat menurunkan emosi dengan cara relaksasi, meditasi, dan gaya hidup, sehingga Memunculkan emosi positif. Jangan mentang-mentang lagi semangat 45 menangani kasus, kita tidak tahu hutan yang akan kita lewati sangat rimbun," tuturnya.

Kemudian, Monica Monalisa Bidang Advokasi RPA Pringsewu mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah serta stakeholder terkait dalam upaya mereka melakukan pendampingan kasus hukum terhadap anak dan perempuan.

"Sehingga para korban bisa mendapatkan keadilan hukum baik dari segi perlindungannya dan pasca putusan perkara peradilan. Semoga proses pelaporan predator seksual di Gadingrejo ini bisa berjalan dengan baik sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tandas Monica.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait