#kebakaran#lapastangerang

Napi Lapas Tangerang Alami Trauma Usai Kebakaran

Napi Lapas Tangerang Alami Trauma Usai Kebakaran
Pendampingan yang dilakukan Dinkes Kota Tangerang terhadap napi di Lapas Kelas 1 Tangerang usai peristiwa kebakaran. Dok Dinkes Tangerang


Tangerang (Lampost.co) -- Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas 1 Tangerang, Banten, banyak yang mengalami trauma berupa kecemasan dan kesulitan tidur setelah peristiwa kebakaran di blok C beberapa waktu lalu.

Kabid Pelayanan Medis dan Keperawatan RSUD Kota Tangerang, Amir Ali, mengatakan dari hasil kuesioner para napi banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur.

"Maka, pada trauma healing (pemulihan trauma) ini belasan dokter psikiater dan psikolog diturunkan. Melakukan terapi kejiwaan dan terapi pengobatan. Sejauh ini belum ada yang naik pada tahap rujukan," kata Amir, di Tangerang, Kamis, 16 September 2021.

Amir menjelaskan pada proses terapi, dilakukan secara orang per orang sehingga sampai saat ini baru sekitar 83 napi yang ditangani. Menurut dia jika trauma healing tidak dilakukan, tidak menutup kemungkinan para napi dapat mengalami kecemasan yang lebih dalam atau depresi mendalam.

Setelah empat hari trauma healing ini selesai, terapi rutin akan dilakukan jajaran dokter Kemenkumham. "Kami Dinkes dan pihak RSUD bersiap untuk obat-obatan dan menerima napi yang sekiranya membutuhkan penanganan rujukan yang lebih mendalam," jelas Amir.

Sementara Kepala Bidang P2P, Dinkes Kota Tangerang, Indri Bevy, menjelaskan program trauma healing digelar sejak Selasa, 14 September 2021 hingga Jumat, 17 September 2021 bersama RSUD Kota Tangerang dan Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI).

Trauma Healing saat ini difokuskan pada para napi dan akan dilanjutkan ke petugas yang bertugas saat kejadian.

Dia menjelaskan sejak hari kedua insiden kebakaran terjadi, tim Dinkes sudah turun untuk melakukan pendekatan, penenangan dan pendalaman terkait gangguan psikis atau mental yang diderita korban selamat di Blok C. Begitu juga dengan mereka di blok tetangga yang sekadar mendengar atau melihat proses kejadian.

"Sebelum para napi bertemu dokter, Dinkes menyebar kuesioner dengan 29 poin pertanyaan. Dari hasil itu baru ditentukan mereka membutuhkan penanganan psikiater atau psikolog dengan berbagai status traumanya," ungkap Indri.

Sementara itu napi berinisial P menuturkan setelah kejadian dirinya kini lebih susah tidur dan cukup sering teringat-ingat sederet kejadian kebakaran.

"Butuh penanganan dokter seperti ini. Seperti tadi kan ditanya, apa yang dirasa, keluhannya apa, dan apa yang mengganggu. Jadi buat saya butuh, supaya saya bisa mengungkapkan perasaan saya, jadi lebih lega," kata napi Blok C1 tersebut.

Hal senada juga diungkapkan napi kasus narkoba berinisial H yang mengaku setelah kejadian cukup mengalami trauma. Terlebih salah satu korban yang meninggal merupakan temannya.

"Mungkin karena saya kepikiran dan mengingat-ingat dia, jadi saya merasa dia datang ke saya. Tapi kalau sekarang, yang saya rasa lebih ingin ke suasana yang ramai, tidak mau sepi. Jadi pelayanan kesehatan seperti ini saya butuhkan agar saya tahu kejiwaan saya," ujar H.

EDITOR

Effran Kurniawan

loading...




Komentar


Berita Terkait