#KONI#KORUPSI

Naik Penyidikan, Kejati Lampung Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi KONI

Naik Penyidikan, Kejati Lampung Belum Tetapkan Tersangka Dugaan Korupsi KONI
Kajati Lampung Heffinur saat memaparkan perkembangan perkara dugaan korupsi KONI Lampung di Kantor Kejati Lampung, Jumat, 14 Januari 2022. Dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Meski telah naik ke tahap penyidikan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung belum menetapkan adanya tersangka dalam dugaan korupsi anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lampung.

"Belum. Ini kan baru naik dari lidik ke tahap penyidikan umum," ujar Kasipenkum Kejati Lampung, I Made Agus Putra, di kantor Kejati Lampung, Jumat, 14 Januari 2022.

Dia menyebut penyidik masih memerlukan serangkaian upaya guna menentukan tersangka. Diantaranya, permintaan audit kerugian negara sebagai salah satu alat bukti.

"Ini yang masih mau dikaji, permintaan nanti oleh Pidsus ke mana (BPK Perwakilan Lampung, BPKP, atau auditor independen). Tetapi, intinya penyidikan tipikor butuh audit kerugian negara," kata Made.

Dia juga menyatakan dalam menguatkan proses penyidikan dan pencarian alat bukti, pihaknya bakal memanggil kembali para saksi yang telah diperiksa baik dari cabang olahraga, maupun pengurus KONI.

"Akan diperiksa lagi, istilahnya pemantapan. Kalau jumlah saksi, lebih dari 30," paparnya.

Dalam perkara ini, Kejati fokus memeriksa saksi-saksi dari berbagai cabang olahraga(cabor). Sedikitnya ada 12 saksi dari cabor yang diperiksa sebelum naik ke penyidikan yakni karate, golf, bisbol, judo, tarung derajat, biliar, senam, muaythai, dan menembak.

Sejumlah saksi telah diperiksa seperti Ketua Forki Lampung dan Ketua Harian KONI Lampung Hannibal, Wakil Ketua Bidang Binpres Frans Nurseto, Sekretaris Tarung Drajat Lampung  Berry Salatar, Ketua Persani Lampung Reihana, dan saksi lainnya.

Sebelumnya, Kepala Kejati(Kajati) Lampung Heffinur menaikkan status perkara dugaan korupsi KONI Provinsi Lampung dari tahap penyelidikan ke tahap penyidikan usai memeriksa pengurus KONI dan cabang olahraga.

Baca juga: Kasus Korupsi KONI Lampung Naik ke Penyidikan

Heffinur menyebutkan kegiatan KONI tidak disusun berdasarkan usulan kebutuhan KONI dan cabor serta tidak berpedoman pada kebutuhan dan rancangan awal. Kemudian, ada temuan program kerja dan anggaran KONI Lampung serta cabor terkait pengadaan barang dan jasa serta ditemukan adanya penyimpangan. Selain itu, ditemukan adanya pengadaan barang dan jasa yang tidak didukung dengan bukti-bukti sah.

"Kami naikkan dan tingkatkan ke penyidikan umum baik di KONI-nya maupun cabang olahraganya," ujar Kajati Lampung.

Namun, KPK belum menyebutkan nama-nama orang baik dari KONI maupun cabor yang ditetapkan sebagai tersangka. Sebab semuanya masih dalam proses penyidikan.

Heffinur memaparkan awalnya KONI Lampung berdasarkan program kerja tahun 2019 mengajukan dana Rp79 miliar, namun hanya disetujui Rp60 miliar.

Lalu, pada Januari 2020, KONI Lampung menandatangani naskah perjanjian hibah dan disetujui.

"Rp60 miliar dibagi dua tahap. Pertama, Rp29 Miliar. Tahap kedua yakni Rp31 miliar," paparnya.

Perincian anggaran Rp29 miliar terdiri dari anggaran pembinaan prestasi Rp22 miliar dan sisanya anggaran partisipasi Rp4 miliar serta anggaran sekretariat Rp3 miliar. Namun, untuk tahap II tidak cair karena pandemi covid-19.

"Sehingga KONI hanya mengelola Rp29 miliar," paparnya. 

EDITOR

Wandi Barboy

loading...




Komentar


Berita Terkait