#icmi

Muswil ke-VII ICMI Soroti Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa

Muswil ke-VII ICMI Soroti Pentingnya Menjaga Persatuan Bangsa
Pembukaan Musyawarah Wilayah VII Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Lampung di Mahligai Agung Universitas Bandar Lampung, Kamis, 28 Juli 2022. Lampost.co/Delima


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) komitmen menjaga NKRI. Dalam berbagai kesempatan, ICMI gencar mensosialisasikan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa. 

"Kehancuran negara belakangan ini karena disintegrasi. Untuk itu, amat penting mengadakan dialog-dialog kebangsaan untuk menjaga keutuhan negara," kata Ketua ICMI Orwil Lampung, Yusuf S. Barusman, saat pembukaan Musyawarah Wilayah VII Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Lampung di Mahligai Agung Universitas Bandar Lampung, Kamis, 28 Juli 2022. 

Muswil tersebut mengusung tema Membangun SDM yang Bermartabat Mewujudkan Lampung Berjaya. Dengan dibuka Gubernur Lampung Arinal Djunaidi dan Ketua ICMI Pusat Arif Satria. 

ICMI juga turut membangun Lampung melalui rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Lampung. 

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi mengatakan gagasan ICMI selama ini sangat brilian berdasarkan analisa tajam. Selama ini, ICMI juga memiliki program selaras dengan pembangunan daerah. 

"Salah satu peran ICMI adalah bersinergi dengan pemerintah menyukseskan program Petani Berjaya," kata Arinal.

Ketum ICMI Pusat, Arif Satria, mengatakan ICMI dituntut mampu menjawab tantangan zaman yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian. "ICMI harus menjadi rumah besar penuh inspirasi bagi umat Islam, yang turut menjaga keutuhan Indonesia," ujarnya. 

Pentingnya menjaga keutuhan negara juga diungkapkan Deputi 1 BNPT Mayjen TNI Nisan Setiadi. Ia menyebutkan problem bangsa saat ini intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang merusak kebhinekaan. 

"Saat ini masyarakat mudah dihasut dengan isu sekterian yang penuh kebencian," kata dia. 

Nisan mengatakan akselerasi radikal marak di medsos. Kelompok radikal dan teroris disebut terus mengubah pola dan modus menggunakan jargon agama untuk mengubah ideologi negara. 

Problem itu harus ditanggulangi kekuatan bersama pemerintah, akademisi, media, hingga komunitas. "ICMI dengan kekuatan cendekiawan harus mampu mendeteksi dini intoleransi, radikalisme, dan terorisme," ujarnya.

EDITOR

Effran Kurniawan


loading...



Komentar


Berita Terkait