#beritalampung#beritalampungterkini#pertanian#petanimilenial

Milenial Lampung Tidak Takut untuk Menjadi Petani

Milenial Lampung Tidak Takut untuk Menjadi Petani
Petani kopi milenial di Lampung Barat saat sedang mengikuti praktik langsung di kebun. Dok


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kata petani milenial baru-baru ini menjadi trending topik di sosial media setelah video anggota DPR, Puteri Komarudin menyatakan milenial tidak ada yang mau menjadi petani. Dalam video berdurasi 30 detik itu, Puteri Komarudin mengatakan salah satu alasan tidak ada anak muda yang mau menjadi petani karena tidak ada dukungan dari pemerintah.

“Jadi, kalau bapak tadi ngomongin petani milenial, enggak ada pak milenial yang mau jadi petani. Sudah tahu nyari pupuknya susah, harga gabahnya turun, terus didorong-dorong jadi petani,” kata Puteri Komarudin, dikutip dari TikTok @puterikomarudin, Senin, 26 September 2022.

Baca juga: Penyaluran Pupuk Harus Sesuai RDKK dalam Mewujudkan Petani Berjaya

Video tersebut lantas mendapat komentar beragam dari para netizen. Ada yang menyebutkan pernyataan Puteri itu sangat realistis dan sesuai fakta yang ada di lapangan.

Tapi, di Lampung ada sosok petani milenial yang mampu menghasilkan produk unggulan mulai dari kopi hingga sayuran hijau hidroponik. Salah satunya adalah Bob Hartopo Putranto, seorang petani green pakcoy yang menjadikan halaman belakang kantor menjadi lahan menanam sayuran.

"Betul apa yang disampaikan Puteri Komarudin, dukungan dari pemerintah itu belum dirasakan. Keuntungan apa yang didapat kalau jadi petani milenial, juga belum ada. Jadi wajar saja kalau akhirnya anak muda enggak ada yang mau menjadi petani," kata dia. Selasa, 27 September 2022.

Bob mengatakan menjadi petani milenial bukanlah hal yang mudah, terlebih banyak eksperimen-eksperimen yang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal. Itu butuh waktu dan uang yang cukup banyak.

"Sebelum berhasil panen green pakcoy, bersama dua saudara saya gagal panen beberapa kali karena kami benar-benar tanam sayur tanpa pestisida. Waktu, tenaga, uang, jelas sangat terkuras sebelum akhirnya bisa panen dengan hasil yang maksimal," ujarnya.

Bob berharap pemerintah terus memberikan sosialisasi juga pemahaman kepada para generasi muda mengenai keuntungan menjadi petani milenial. Namun, dukungan permodalan tentu tidak boleh dilupakan.

"Ya ayo pemerintah ajak dong generasi muda jadi petani, dukung dengan kasih sosialisasi, permodalan, kursus atau pelatihan khusus menjadi petani yang unggul. Jangan nyuruh aja jadi petani, tapi nggak ada dukungannya," ujarnya.

Petani lainnya yang juga pendiri Kopista Indonesia, Karjo Matajat mengatakan pemerintah saat ini tidak sadar ketika sedang dikritisi. Pernyataan Puteri tentang petani milenial itu dikatakan Karjo sangat realistis.

"Mindset-nya harus diubah dulu, kita samakan persepsi juga tentang apa itu berkebun, apa itu bertani. Pemerintah berpikir kalau petani itu sudah modern, tapi anak zaman sekarang bisa beranggapan petani ya di kampung, pakai baju kotor dan topi caping," ujarnya.

Karjo mengatakan di Lampung Barat sudah banyak petani milenia, yang tentunya bangga menjadi seorang petani kopi. Selama ini milenial di Lambar dibina dan diberikan pengertian bahwa menjadi petani itu adalah pengalaman yang menyenangkan.

"Jadi petani itu keren, kalau petani kopi itu kerja hanya empat bulan dalam satu tahun. Sisanya yang delapan bulan bisa jalan-jalan tanpa harus menjalankan rutinitas yang membosankan seperti pegawai kantoran," katanya.

Untuk itu, Karjo mengajak para pemuda untuk tidak ragu menjadi seorang petani milenial. Meski belum ada dukungan dari pemerintah secara langsung, dengan semangat dan kemauan tinggi pertanian di Indonesia akan maju jika pemuda bergerak bersama.

"Kami memberikan bimbingan terhadap puluhan kelompok petani kopi di berbagai daerah di Lampung, beberapa petani dapat mencapai produksi lebih dari tiga ton per hektare. Dengan hasil-hasil seperti itu, pasti milenial juga mau jadi petani, yang penting itu bagaimana ketekunannya," katanya.

EDITOR

Muharram Candra Lugina


loading...



Komentar


Berita Terkait