#nuansa#Merdeka-Belajar#wandi-barboy

Merdeka Belajar

Merdeka Belajar
Ilustrasi Pixabay.com


Wandi Barboy

Wartawan Lampung Post

SURAT Kabar Harian Umum (SKHU) Lampung Post pada headline halaman pertamanya, Jumat(31/1), mengangkat judul Merdeka Belajar Jadi Solusi. Sebuah judul yang kentara mendukung kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.  

Pada sejumlah kesempatan, pendiri aplikasi transportasi Go-Jek ini menyatakan konsep merdeka belajar yang diyakininya esensinya diambil dari Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Nadiem mengatakan ia memilih Merdeka Belajar karena tiap sekolah, juga kampus, berhak diberi kebebasan. Dua konsep yang ditawarkan Nadiem sejauh ini Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka.

"Saya punya keyakinan bahwa setiap instansi diberi kebebasan cara tercepat melakukan perubahan serentak supaya semua anak bisa belajar. Mungkin saya salah, tapi itu keyakinan saya," kata Nadiem saat rapat bersama anggota DPR di gedung DPR beberapa waktu lalu.

Ia menegaskan sistem pendidikan yang berjalan selama ini perlu dirumuskan ulang. Sebab, telah menciptakan belenggu baik bagi kemerdekaan guru maupun birokrasi, administrasi, bahkan kurikulum. Semua mesti dikaji. "Peta jalan (road map) saya Merdeka Belajar."

Dalam konsep ini, Nadiem ingin memberikan siswa dan mahasiswa sebuah fleksibilitas dalam belajar dan berkreasi. Menurutnya, dunia tidak membutuhkan anak yang jago hafal.

Angan saya pun langsung mengawang-awang mengenang Menteri Pengajaran pertama Republik Indonesia sekaligus pendiri perguruan Taman Siswa itu. Berdasarkan sejarah yang kita terima saat bersekolah dahulu, filsafat dasar pendidikan Indonesia memang mengacu pada rumusan Ki Hadjar Dewantara, yang telah meletakan fundamen pendidikan yang berasas kearifan lokal.

Artinya, seberapa kuat rumusan pendidikan yang disusun itu maka harus berbasiskan nilai-nilai keindonesiaan. Hal inilah yang menjadi kekhasan pendidikan di Indonesia. Dari sisi tujuan tetap dinamis mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak terlepas juga dari akar kebudayaan nasional. Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara menjadi bukti.

Dikutip dari laman Tirto.id, dasar pemikiran di balik pembangunan Taman Siswa memang bertujuan membentuk karakter siswa yang berasas nasionalisme. Maka itu, tidak heran bahwa sedari awal pembangunannya, Taman Siswa sudah menyatakan diri sebagai Lembaga Pengajaran Nasional.

Lantas, bagaimana seharusnya merespons tantangan kebijakan pendidikan di era yang penuh disrupsi ini? Sebelum menjawab ini, saya berpijak kembali ke sejarah. Mahkamah sejarah telah menggariskan bahwa Ki Hajar belum sempat memperkenalkan merdeka belajar karena ia hanya menjabat selama tiga bulan masa Presiden Soekarno. Kini, Nadiem mencoba menghidupkan kembali konsep tersebut.

Memungkasi catatan ini, saya ingin mengutip kalimat terakhir dari kata pengantar Gus Dur dalam buku Pendidikan sebagai Praktek Pembebasan Paulo Freire yang menuliskan: Terserah kepada sejarah dan saat ini kepada penilaian masing-masing untuk menentukannya.

EDITOR

Bambang Pamungkas


loading...



Komentar


Berita Terkait