#telkomsel#operatorseluler#bts

Merasa Dibohongi, Enam Warga Sekitar BTS di Imopuro Cabut Surat Pernyataan

Merasa Dibohongi, Enam Warga Sekitar BTS di Imopuro Cabut Surat Pernyataan
Theopilus B. Telaumbanua (55) salah seorang warga sekaligus yang mencabut surat pernyataan yang dahulu pernah menjadi saksi jual beli tanah. Lampost.co/Bambang Pamungkas


Metro (Lampost.co): Sebanyak enam warga dari RT 28 RW 05 di Kelurahan Imopuro, Kecamatan Metro Pusat mencabut surat pernyataan yang dahulu pernah mereka tandatangani terkait penjualan tanah yang sekarang telah didirikan menara base transciever station (BTS) milik PT Telkomsel.

Awalnya sebanyak 12 orang telah menandatangani surat pernyataan yang sebelumnya adalah surat sebagai saksi penjualan tanah. Lima diantaranya telah meninggal dunia, tiga orang pindah dari Metro, dan satu orang tidak mau mencabut. 

Theopilus B. Telaumbanua (55) salah seorang warga sekaligus yang mencabut surat pernyataan tersebut mengatakan awalnya dia diminta untuk menjadi saksi jual beli tanah. 

"Saya dulu termasuk pelaku sejarahnya, saya yang nomor 12 yang tanda tangan atas jual-beli tanah itu. Namun, sekarang ini saya cabut pernyataan saya itu," kata dia, Minggu, 27 September 2020.

Ia menambahkan protes warga tidak hanya kali ini saja. Pada 2005 hal serupa pernah terjadi, namun tidak ada respon terhadap keresahan warga.

"Dulu kami pernah memprotes pada tahun 2005 namun tidak direspon dan tidak digubris, tapi kalau kita sekarang ini lebih bagus caranya dan kami juga sudah menyurati pemerintah Kota Metro secara resmi," tambahnya

Dia menjelaskan setelah kerapnya terjadi sambaran petir yang kerap menyambar rumah warga, dari pihak Telkomsel hanya memberikan asuransi berupa kerusakan barang elektronik.

"Kalau dulu sebenarnya sama saja, namun lebih intinya untuk pihak Telkomsel untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang berimbas dari berdirinya menara BTS ini baik itu petir dan radiasi terutama pada barang elektronik. Dulu telepon rumah saya pun sempat tersambar," ujar dia.

Pada intinya, dia dan beberapa warga yang dulu sempat menjadi saksi kini telah mencabut surat pernyataan itu.

"Sebagai saksi jual beli saya cabut pernyataan itu. Tanda tangan saya dulu hanya untuk jual-beli, namun persetujuan itu bukan untuk mendirikan bangunan tower ini. Kami masyarakat itu sebenarnya tuntutannya karena sering kejadian-kejadian bencana alam," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo

loading...




Komentar


Berita Terkait