#refleksi#Covid-19Lampung#VarianDelta

Menyapu Bumi

Menyapu Bumi
Ilustrasi virus Corona. Pixabay


AKIBAT dari kengeyelan warga, kini petaka kian tidak berbendung! Angka kematian dan pasien terpapar Covid-19 meningkat berlipat-lipat. Tidak ada kekuatan yang mampu menghadang keliaran virus varian baru bernama delta. Ikhtiar dan seizin Tuhan Yang Mahakuasa serta protokol kesehatan superketat bisa menurunkan penyebaran virus dari India itu.

Keganasan itu diperkuat prediksi pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia. Dicky Budiman mengatakan kasus harian Covid-19 saat puncak bisa 100 ribu kasus. Apabila pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat  dan mikro tidak efektif, kenaikan angka tersebut akan mencapai 400 ribu per hari.

Ini peringatan bagi penduduk negeri. Bahkan, Dicky sangat mendukung PPKM darurat diperpanjang di tengah ledakan virus corona baru, paling tidak selama enam pekan. Situasi memang sangat darurat. Tidak ada basa-basi lagi. “Kalau tidak diperpanjang, kita mengarah kepada skenario terburuk,” beber Dicky. Kasus virus itu bisa mencapai satu juta per hari.

Kalau diamati hampir seluruh pelosok Nusantara, jumlah angka kematian akibat Covid-19 di negeri ini sempat menembus seribuan per hari. Apalagi varian delta nyaris menyebar 60 persen di Indonesia. Sirine perpanjangan waktu PPKM darurat disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani. Ini hanya satu-satu jalan menyelamatkan pertumbuhan ekonomi.

Pejabat di Kementerian Dalam Negeri, yakni Direktur Jenderal Administrasi Wilayah, Safrizal ZA juga memberikan peringatan. Tapi opsi perpajangan akan ditentukan dari evaluasi menjelang berakhirnya masa PPKM darurat, Selasa (20/7), atau bertepatan Hari Raya Iduladha. Patut direnungkan, ini bukan rekayasa. Virus itu sudah menyapu kehidupan di bumi.

PPKM darurat harus mendapat dukungan penuh. Masyarakat boleh protes. Varian delta merasuki tubuh manusia, berhari-hari terpapar di rumah sakit, bahkan merenggut nyawa. Tidak ada kata lain, PPKM darurat harga mati. Ada hitungannya, mengapa wilayah berstatus darurat.

Dalam pendekatan karakteristik bipolar manusia bahwa kebijakan PPKM darurat menjadi anomali dalam diri orang. Mencederai kebebasan beraktivitas. Ingat! Kebijakan ini untuk menyelamatkan nyawa. Warga memang frontal ketika PPKM darurat diterapkan. Negara harus membayarnya sangat mahal hanya karena semata-mata melindungi rakyat.

Dalam hitungan jam, puluhan kematian diterima Kementerian Kesehatan sejagat Indonesia. Rumah-rumah sakit penuh. Bahkan, satu-satu caranya untuk melindungi rakyat dengan memberikan informasi tentang menekan penyebaran Covid-19 melalui aplikasi sehat dan platform berbagai media.

Karena abai protokol kesehatan serta ganasnya varian delta, ratusan warga menjalani isolasi baik di rumah sakit maupun di rumah. Banyak umara dan ulama menjadi korban. Berita kematian silih berganti. Virus memang tidak memandang jabatan, pangkat, tua atau muda, laki atau perempuan, si kaya atau si miskin. Semua dihabisi virus corona karena abai kesehatan!

Agar negeri ini sehat juga di Lampung, ditambahi lagi pos-pos penyekatan menuju pusat kota dan keramaian. Apalagi menjelang Hari Raya Iduladha atau Idulqurban1442H agar penyebaran Covid-19 bisa dikendalikan. Untuk di Bandar Lampung saja, ditambah menjadi sembilan pos penyekatan.

Alasan penambahan titik penyekatan karena warga masih abai kesehatan juga senang berkerumun. Terjadinya infeksi virus karena dipengaruhi lemahnya daya tahan tubuh, masifnya serangan virus,  faktor lingkungan. Sekali lagi, PPKM darurat perlu diperpanjang jika rakyat tetap ngeyel.

***

Mengapa perlu diperpanjang, selain varian baru tambah ganas juga karena memastikan masa inkubasi Covid-19 selama 14 hari. Jadi perlu dilipatkan dua kali–yakni selama 28 hari agar angka kasusnya benar-benar melandai. Ada untung dan ruginya. Kerugian dari sisi ekonomi terpuruk. Rakyat kian susah. Di sisi lain, warga akan kembali sehat agar bisa bekerja lagi.

Dalam setiap tayangan media berbagai platform, hampir seluruh rumah sakit di ibu kota dan daerah mengalami overload, akibat keganasan Covid-19 tanpa diduga akan menjadi masif. Sementara kapasitas pelayanan dan tenaga kesehatan kian terbatas karena sudah dilumpuhkan virus corona.

Karena masih ngeyel, cuek, serta tidak peduli dan tidak mau tahu bahaya virus, kini bencana besar itu benar-benar terjadi. Tak hanya di Indonesia, juga di Amerika, Italia, Spanyol, Inggris, Brasil, bahkan India. Laju infeksi dan penyebaran varian baru meningkat tajam. Sangat menakutkan!

Di negeri ini, banyak ragam penyebabnya karena masih mudik walaupun sudah dilarang. Pengunjung pasar modern masih tumpa ruah, tempat wisata dan rekreasi juga kafe masih terjadi kerumunan, masih ada juga pendatang luar negeri yang tidak dijaga ketat. Ini yang membuat parah.

Apalagi di tengah PPKM darurat–masih ada kebijakan tarik ulur. Kalau TNI/Polri menyatakan darurat, penanganannya juga represif. Tidak ada lagi ruang negosiasi–berwacana. Seperti buka tutup titik penyekatan ruas jalan dan fasilitas publik. Pagi ditutup, siang dibuka, sore ditutup lagi. Praktik seperti ini membuka celah masyarakat tidak akan patuh.

Ketika peraturan penanganan Covid-19 diterbitkan, maka di lapangan harus dikawal ketat. Akan halnya sertifikat vaksin yang berlaku untuk bepergian jauh. Saatnya masuk pasar modern, kafe, tempat wisata, sekolah, kampus, serta masuk rumah ibadah wajib mengantongi kartu vaksin.

Vaksinasi sebuah ikhtiar membuat kekebalan kelompok sehingga Covid-19 bisa dikendalikan. Berhentilah membuat narasi yang menakutkan, seperti vaksin tidak memberikan manfaat, bahkan mempercepat kematian. Sebuah pandangan keliru dan menyesatkan warga di tengah pandemi.

Apalagi virus corona sudah beranak pinak. Saat ini muncul lagi varian baru bernama lambda. Jenis ini menambah daftar panjang varian virus corona seperti alfa, beta, gama, delta, hingga kapa. Jenis lambda ini pertama kali terdeteksi di negera Peru pada Agustus 2020 lalu.

Akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan varian lambda sebagai variant of interest (VoI) di tingkat global pada 15 Juni 2021. Lambda memiliki mutasi dengan implikasi meningkatkan risiko penularan dan tingkat keparahannya luar biasa banyak negara di dunia.

Orang lain sudah berlari kencang menangani virus corona, tapi negeri ini masih berdebat–mengadu ilmu dan keahlian, tabiat memviralkan berita bohong (hoaks), saling menyalahkan, dan sempat-sempatnya menyulap penanganan Covid-19 menjadi panggung pencitraan. Hari ini dan esok, anak bangsa membutuhkan kepastian bahwa ia ingin selalu hidup sehat.  ***

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait