#internasional#indoneisa-india

Menolak Lupa Sejarah Persahabatan Indonesia-India

( kata)
Menolak Lupa Sejarah Persahabatan Indonesia-India
Dubes RI untuk India, Arto Suryodipuro.(tengah) dalam talkshow A Moment of Reflection di New Delhi, India, 25 Februari 2020. (Foto: KBRI New Delhi)

New Delhi (Lampost.co) -- Dalam rangka memperingati 70 hubungan diplomatik Indonesia-India, KBRI New Delhi bekerja sama dengan Nehru Memorial Museum and Library (NMML) menyelenggarakan kegiatan Talkshow dan Pameran Foto tentang sejarah kedekatan kedua bangsa. Acara bertema "A Moment of Reflection" ini digelar di Auditorium NMML, New Delhi, India, Selasa 25 Februari.

Kegiatan Talkshow dan Pameran Foto bertujuan untuk menunjukkan sekaligus mengedukasi publik, khususnya generasi milenial, bahwa Indonesia dan India adalah dua sahabat besar, yang secara langsung telah berkontribusi dalam proses perjalanan panjang menuju kemerdekaan.

Selain itu, acara juga digelar sebagai upaya menolak lupa bahwa ada tokoh-tokoh India yang terlibat langsung dalam perjuangan Indonesia melawan kolonialisme yang sudah seharusnya diapresiasi generasi bangsa.

Hubungan dekat kedua negara tercantum dalam buku berjudul "India’s Relation with Indonesia" karya Duta Besar India untuk Indonesia (2006-2008), Navrekha Sharma, yang ditulisnya bersama Prof. Baladash Goshal.

"Indonesia dan India memang sempat melewati pasang surut hubungan kerja sama. Bahwa ada fase ignorance dimana orang-orang tidak lagi menganggap persahabatan kedua negara yang terjalin pada periode perjuangan dan pascakemerdekaan sebagai episode sejarah yang penting untuk dijadikan landasan kerja sama kedua bangsa besar ini," kata Dubes RI untuk India, Arto Suryodipuro.

"Oleh karenanya, saat ini perlu dibangun upaya yang berkelanjutan oleh semua pihak untuk menghidupkan kembali esensi kedekatan kedua bangsa yang dulu dengan sudah payah dibangun oleh para tokoh nasional. Visi persahabatan yang telah mereka bangun bukan semata-mata untuk konteks kepentingan masa saat itu saja, namun untuk masa sekarang dan masa yang akan datang," lanjutnya, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Sabtu 29 Februari 2020.
 
Menolak Lupa Sejarah Persahabatan Indonesia-India
Tur melihat kedekatan RI-India di museum NMML. (Foto: KBRI New Delhi)

Acara Talkshow dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama dengan tema "Struggle for Independence-1949" menghadirkan pembicara dari Indonesia dan India, antara lain Sudharshan Bhutani (Duta Besar India untuk Indonesia, 1979-1982), Prof. Meutia Hatta Swasono (mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI, 2004-2009), Marsma TNI AU, Fajar Adriyanto (Kepala Dinas Penerangan TNI AU), dan Prof. S.D. Muni (Member of the Executive Council of Institute for Defense Studies and Analysis (IDSA), bertindak sebagai moderator adalah Wakil Direktur NMML, Dr. Ravi K. Mishra.

Pada sesi tersebut, para narasumber yang merupakan tokoh nasional mengupas secara mendalam bagaimana India dan Indonesia saling memberikan dukungan untuk melawan kolonialisme dan imperialisme untuk meraih kemerdekaan. Kedekatan yang terjalin bukan sekedar hubungan diplomatis, tapi juga emosional sebagai sahabat besar.

Dubes Sudharshan Bhutani membagikan pengalamannya sebagai Counselor of India for Indonesia (1967-1969) dan Duta Besar India untuk Indonesia (1979-1982) selama berinteraksi dengan mitra Indonesia pada masa Presiden Sukarno dan Presiden Suharto.

Prof. Meutia Hatta Swasono yang merupakan putri dari Wakil Presiden RI pertama, Mohammad Hatta memaparkan kedekatan Mohammad Hatta dengan Jawaharlal Nehru. Mohammad Hatta pertama kali bertemu Nehru pada pertemuan kongres internasional "The League Against Imperialism and Colonial Suppression," 93 tahun yang lalu, tempatnya 10 Februari 1927 di Brussels. Kedekatan dua sahabat pun berlanjut pada masa-masa perjuangan selanjutnya.

Selain itu, salah satu tokoh penerbang ulung India yang terkenal pemberani, Biju Patnaik yang turut membantu perjuangan Indonesia untuk menghadapi kolonialisme pascaproklamasi kemerdekaan juga mendapat perhatian dalam pembahasan yang disampaikan oleh Marsma Fajar Adriyanto.

"Biju Patnaik turut berkontribusi besar terhadap misi perjuangan Indonesia dan juga dalam sejarah berdirinya TNI AU. Momen tersebut juga menjadi simbol dukungan India melalui peran Biju Patnaik dalam membangun konektivitas udara para era pos-kolonial," papar Fajar.

Atas jasanya, Biju Patnaik diberi penghargaan tertinggi "Bintang Jasa Utama" oleh Pemerintah Indonesia pada Desember 1995, yang penyerahannya dilaksanakan di Kedutaan Besar Repubik Indonesia di New Delhi oleh Duta Besar Adolf Sahala Rajagukguk.

Prof. S.D. Muni berbagi pandangan mengenai efektivitas kerja sama India dan Indonesia dalam rangka upaya memperoleh pengakuan kemerdekaan oleh dunia internasional.

Talkshow sesi kedua membahas mengenai "Struggle for Prosperity" (Post Independence period) yang menghadirkan narasumber antara lain Rizali Wilmar Indrakesuma (Duta Besar RI untuk India, 2012-2017), Navrekha Sharma (Duta Besar India untuk Indonesia, 2006-2008 & penulis buku India’s relation with Indonesia), Prof. Muetia Hatta Swasono, Prof. Baladas Ghoshal (mantan guru besar Southeast Asia, South West Studies, JNU), dan Prof. Iwan Pranoto (Guru besar Matematika ITB dan mantan Atase Pendidikan pada KBRI New Delhi), bertindak sebagai moderator, Dr. Gautam Kumar Jha (Associate Professor JNU).

Dalam sesi kedua banyak dibahas mengenai potensi kerja sama multi-sektoral antara India-Indonesia, di mana interaksi budaya dan kemiripan demografi, serta sebagai negara demokrasi besar, bisa memainkan peran penting dalam konteks mendorong kemajuan hubungan bilateral kedua negara saat ini.

Dubes Rizali dan Dubes Naverkha Sharma banyak membahas mengenai dinamika kerja sama bilateral yang dilakukan India dan Indonesia untuk menyejahterakan rakyat kedua negara, mereka juga membagi pengalaman saat menjabat sebagai Duta Besar.

Sementara itu, Prof. Baladas Ghoshal dalam materinya membahas hubungan India-Indonesia dari aspek hubungan internasional melalui pemahaman akademik. Menariknya, Prof. Ghushal juga fasih berbahasa Indonesia.

Tak kalah menariknya, Prof. Iwan Pranoto memaparkan tema mengenai sejarah hubungan dan interaksi budaya dan ilmu pengetahuan antara India dan Indonesia yang pernah berkembang pesat pada masa Nalanda University dan Bali Jatra.

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 80 orang dari kalangan akademisi, sejarawan, jurnalis dan kalangan diplomatik serta pejabat setempat. Mereka menyambut positif upaya KBRI New Delhi dalam rangka menghidupkan kembali semangat kedekatan kedua bangsa yang terjalin di masa lalu dan menghimbau kepada generasi muda saat ini mempelajari dan mengambil contoh dari semangat para pendiri bangsa dalam menjalin hubungan yang baik.

Selanjutnya akan diselenggarakan kegiatan Pameran Foto dengan tajuk yang sama "A Moment of Reflection" yang akan dibuka secara resmi oleh Minister of State for Civil Aviation, Shri Hardeep Singh Puri, pada 27 Februari 2020 di National Memorial Museum and Library, New Delhi.

 

EDITOR

Bambang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

Komentar