bungkarnonuansa

Menghidupkan Bung Karno

( kata)
Menghidupkan Bung Karno
Foto: Dok


Wandi Barboy

Wartawan Lampung Post

TIAP menginjak bulan Juni, sering diistilahkan sebagai bulannya Bung Karno. Bukan tanpa dasar semua itu disematkan kepada satu dari dua proklamator bangsa tersebut.

Menilik dari tarikh kelahiran, Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901. Pada buku autobiografi Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia yang ditulis Cindy Adams pada 1966, terbentang kisah kelahiran Bung Karno yang juga menandai suatu abad baru.

"Bersamaan dengan kelahiranku menjingsinglah fadjar dari suatu hari jang baru dan menjingsing pulalah fadjar dari satu abad jang baru. Karena aku dilahirkan di tahun 1901." (Hlm 23).

Tidak hanya kelahiran yang menjadi penanda, kematiannya pun di bulan Juni. Bung Karno wafat pada 21 Juni 1970 setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Angkatan Darat. Dari arsip harian Kompas, 24 Juni 1970, tertera judul tulisan Banjir Air Mata di Blitar. Upacara pemakaman Presiden Pertama RI, Soekarno, di Blitar, Jawa Timur, Senin, 22 Juni 1970, mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Sejak pagi warga memadati jalan Malang—Blitar yang akan dilewati kendaraan pembawa jenazah Soekarno.

Soekarno yang sebelumnya dirawat di kediamannya di Wisma Yasa, Jakarta, sejak 16 Juni 1970 dirawat di Rumah Sakit Angkatan Darat karena kondisi kesehatannya memburuk. Hanya sempat dirawat lima hari, Soekarno wafat pada Minggu, 21 Juni 1970, pukul 07.00. Warga yang mengetahui rencana pemakaman Bung Karno di Blitar memadati sepanjang jalan Malang—Blitar untuk memberikan penghormatan terakhir.

Tidak hanya di tepi jalan, warga juga naik ke atap rumah, bahkan memanjat pohon, hanya untuk melihat mobil pembawa jenazah Soekarno. Saking banyaknya warga, perjalanan Malang—Blitar sejauh 90 kilometer harus ditempuh mobil pembawa jenazah sekitar empat jam.

Isak tangis mewarnai upacara pemakaman. Suara tangis dan banjir air mata semakin menjadi-jadi ketika dibacakan riwayat hidup almarhum dan apel persada diiringi bunyi terompet syahdu yang menyayat hati, “... Kami mempersembahkan jiwa raga Dr Ir Soekarno ke pangkuan Ibu Pertiwi...

Demikianlah kelahiran dan kematian Bung Karno. Maka, tidak mengherankan rasanya jika bulan Juni disebut Bulan Bung Karno. Tentu saja yang tidak bisa dilupakan adalah pidato monumentalnya—yang sering disebut sebagai pidato kelahiran Pancasila—saat rapat BPUPKI di Jalan Pejambon, Jakarta, pada 1 Juni 1945.

Kini negeri ini dilanda pandemi Covid-19. Saatnya menghidupkan kembali ajaran Bung Karno. Spirit Pancasila dan gotong royong kian urgen diterapkan. Semoga.

EDITOR

Setiaji Bintang Pamungkas

loading...




Berita Terkait


Komentar