#harikartini

Mengenal Sifat RA Kartini yang Perlu Diteladani

Mengenal Sifat RA Kartini yang Perlu Diteladani
RA Kartini/MI


Jakarta (Lampost.co) -- Ibu kita Kartini putri sejati putri Indonesia harum namanya’. Sepenggal lirik lagu buatan Wage Rudolf Supratman itu seolah selalu terekam dalam benak setiap perempuan di Indonesia. Sesuai dengan liriknya, nama Raden Adjeng Kartini memang begitu harum di seantero negeri.

Kartini merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional yang dikagumi oleh hampir seluruh perempuan Tanah Air. Bagaimana tidak? Di usianya yang terbilang belia, Kartini sudah memiliki pemikiran yang yang kritis dan sangat gigih untuk memajukan perempuan Indonesia kala itu.

Sayangnya, upaya Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita tidak bisa berlangsung lama. Ia wafat di usia 25 tahun tepat empat hari usai melahirkan putranya, RM Soesalit Djojoadhiningra.

Namun, bukan berarti tidak ada sosok Kartini lainnya di zaman modern ini. Kita sebagai perempuan bisa melanjutkan perjuangan Kartini dengan menaladani sifat-sifatnya.
Bertepatan dengan Hari Kartini 2021 yang jatuh pada Rabu, 21 April 2021, berikut sifat Kartini yang patut dicontoh kaum perempuan:

1. Rendah hati

RA Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Ia mendapatkan gelar Raden Adjeng karena ia merupakan seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Meski begitu, ia tidak pernah menunjukkan status sosialnya itu. Kartini tidak pernah menyombongkan apa yang ia miliki, apalagi membedakan-bedakan kasta. Perilakunya ini membuat ia terkenal sebagai sosok orang yang rendah hati.

2. Pintar dan kritis

Kartini termasuk perempuan yang beruntung pada zamannya. Ia bisa mengenyam pendidikan di Europes Lagere School (ELS) yang merupakan salah satu sekolah bergengsi pada zaman colonial Hindia Belanda di Indonesia.

Menimba ilmu di sekolah tersebut membuat ia belajar bahasa Belanda. Berkat tekadnya yang kuat, kecerdasan Kartini pun semakin terasah di ELS. Alhasil, ia menjadi pintar dan bahkan bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran yang kritis.

3. Tidak egois

Kartini memiliki cita-cita untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan menjadi seorang dokter. Sayangnya keinginan itu tidak pernah tercapai karena ia harus menghentikan langkahnya ke sekolah. Ia terpaksa harus menggugurkan mimpinya itu setelah dipingit dari usia 15 tahun. Dari situ dapat terlihat bahwa Kartini memiliki sifat yang tidak egois. Ia meredam egonya untuk menyenangkan orang tuanya.

4. Berani bersuara

Meski Kartini harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikan karena harus menikah dengan seorang bangsawan Rembang bernama KRM Adipari Ario Singgih Djojo Adhiningrat, bukan berarti kondisi itu membuat dirinya menutup diri. Ia tetap belajar sendiri, membaca, dan menulis surat untuk dikirimkan kepada teman-teman korespondensinya yang berasal dari Belanda, salah satunya yakni Rosa Abendanon.

Tak hanya itu, ia juga menyuarakan apa yang dirasa melalui karya tulisannya. Tulisannya bahkan pernah dimuat dalam majalah perempuan di Belanda, De Hollandsche Lelie.

5. Cinta tanah air

Kartini dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan emansipasi wanita. Ia ingin perempuan di Indonesia dapat memiliki persamaan hak dalam mendapatkan pendidikan.

Melalui tulisannya, ia pun pernah mengungkapkan kemajuan perempuan merupakan faktor penting dalam peradaban bangsa. Kartini percaya wanita memegang peranan penting dalam memajukan bangsa dan Tanah Air. Sifat ini tentunya patut untuk diteladani karena Kartini memikirkan suatu perubahan yang bisa berdampak baik untuk Indonesia.

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait