#PilpresAmerika2020

Mencontoh Biden

Mencontoh Biden
Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberikan keterangan mengenai kemenangannya. AFP


Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post

BIDEN menang! Calon presiden Amerika Serikat (AS) berpasangan dengan Kamala Harris itu berhasil menumbangkan Donald Trump–Mike Pence, presiden petahana. Trump harus puas mengumpulkan 214 suara elektoral sedangkan Biden meraup kemenangan dengan 290 suara.

Penantang Trump–Joe Biden menang banyak karena hadirnya perempuan pertama wakil presiden, Kamala Harris. Dia berdarah India dan Jamaika. Kehadiran putri keturunan keluarga imigran itu adalah simbol perlawanan atas kebijakan Trump yang mengusir kaum pendatang dari Bumi Amerika.

Terpilihnya Biden-Harris adalah kehendak rakyat Amerika, dan membuat decak kagum seisi dunia. Rakyat di Negeri Paman Sam tidak menginginkan lagi kehadiran Trump di Gedung Putih. Mereka dihadapkan pilihan untuk menentukan sendiri nasib masa depan bangsanya.

Yang terpenting, bangsa di dunia banyak belajar dari Amerika, bagaimana Biden mengalahkan Trump di era pandemi Covid-19. Tidak terkecuali calon kepala daerah dan wakil kepala daerah yang sibuk-sibuknya menyiapkan diri berhelat di Pilkada serentak, 9 Desember mendatang.

Jika ingin memenangi pesta, harus belajar bagaimana pasangan Biden–Harris  merebut hati rakyat Amerika. Percaya atau tidak, Biden sudah memberi contoh, terutama melakukan pencegahan Covid-19.

Dan anak-anak bangsa yang berlaga di pilkada kali ini patutnya mengikuti gaya Biden dalam memerangi virus corona. Biden berbeda dengan Trump. Dia tegas dan sangat ketat menerapkan protokol kesehatan–melawan Covid-19 agar Amerika bebas dari pandemi. Karena wabah asal Wuhan, Tiongkok itu sudah memorakporandakan perekonomian dunia.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dari kemerosotan ekonomi dan rakyat Amerika harus sehat. Biden patut dicontoh. Dalam pilkada nanti, sebanyak 687 pasangan calon berebut jabatan kepala daerah di sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Sedangkan di Lampung ada 23 pasangan calon berlaga di enam kabupaten dan dua kota.

Mendagri Tito Karnavian juga mengingatkan rakyat agar tidak memilih calon kepala daerah yang tidak mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Bahkan, mantan Kapolri itu berharap Pilkada 9 Desember, harus menjadi ajang isu penanganan Covid-19 serta dampak sosial ekonomi.

Oleh karena itu, patut dicermati kemenangan Biden-Harris juga ditentukan pola kampanye sederhana dan santun. Bahkan, Biden piawai melunakkan hati pemilih dari kalangan Muslim-Amerika. Dia berjanji akan memasukkan warga Muslim-Amerika dalam pemerintahannya.

Janji itu disampaikannya saat webinar dengan pemilih Muslim-Amerika pada Juli lalu. Biden menjalin kerja sama kemitraan masyarakat Muslim-Amerika. Dia akan mengakhiri larangan terhadap pelancong dari negara mayoritas Muslim ke Amerika. “Jika jadi presiden, saya mengakhiri larangan ini pada hari pertama (dilantik jadi presiden),” kata Biden saat itu.

Pada 2017, pemerintahan Trump dengan bangga menerbitkan peraturan  melarang pelancong dari tujuh negara Islam masuk ke Amerika. Aturan itu mau direvisi karena mengganggu keharmonisan kehidupan beragama antarnegara. Namun pengadilan mahkamah Amerika menguatkannya.

***

Ranjau-ranjau perbedaan yang dibuat Trump inilah yang dimanfaatkan Biden untuk menarik simpati dari kalangan muslim. Dalam pidato online yang diselenggarakan organisasi advokasi Emgage Action, Juli lalu, Biden akan mengalahkan Trump dengan mengutip berbagai hadis dan aturan dalam agama Islam.

Alasan Biden mengucapkan hadis Nabi saw agar warga harus ikut andil sama-sama menumpas kemungkaran yang ada. "Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tanganmu, jika tidak sanggup, lakukan dengan lisanmu. Jika tidak mampu, ubahlah dengan hatimu,” kata Biden yang mengutip hadis Nabi Muhammad saw.

Kalau Trump lebih mengedepankan perbedaan kulit dan rasis. Sedangkan Biden lebih demokrat  bahkan sekolah-sekolah di AS diminta mengajarkan lebih banyak tentang Islam. Bahkan, Biden beragama Katholik Roma itu juga memuji Islam sebagai salah satu agama agung dan diakui. Kampanye cara-cara seperti ini membuat muslim Amerika mendukungnya habis-habisan.

Biden Menang. Dunia berubah. Dia mengumumkan empat masalah teratas yang akan ditangani setelah resmi menjabat di Gedung Putih. Masalah yang menghabiskan energi warga Amerika itu antara lain persoalan pandemi Covid-19, kesetaraan rasial, perubahan iklim, dan pemulihan ekonomi.

Belakangan Trump tidak mengakui kemenangan Biden. Kekalahan itu membuat gusar Trump. Selain membuat perhitungan di pengadilan, dia juga mencopot Menteri Pertahanan Mark Esper. Langkah ini memberi kode bahaya bagi pemerintahan transisi. "Trump bermaksud menggunakan hari-hari terakhirnya untuk menabur kekacauan dalam demokrasi Amerika  dan di seluruh dunia," kata Ketua DPR Nancy Pelosi.

Apalagi 70% warga Israel mendukung Trump terpilih lagi menjadi presiden Amerika. Sebuah jajak pendapat dari Negara Zionis Yahudi— Survei Institut Demokrasi Israel merilis sehari sebelum hari pemilihan AS, menanyakan apakah Trump atau Biden adalah kandidat yang disukai (dari sudut pandang kepentingan Zionis Israel).

Hasilnya? Sebanyak 70% orang Yahudi Israel menyukai Presiden Trump, 13% condong ke Biden, dan 17% tidak tahu. Trump dinilai sebagai salah satu presiden AS paling pro-Israel. Seperti mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel, lalu memindahkan kantor Kedubes AS ke Jerusalem. Trump sangat kental keberpihakan—menguntungkan Israel ketimbang Palestina!

Paling penting, kemenangan Biden ditentukan kesadaran politik warga Amerika akan masa depan bangsa, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang tidak menyurutkan warganya menentukan pilihan. Terpilihnya Biden membawa harapan baru, karena ia menjunjung tinggi keberagaman dan merekatkan demokrasi yang hampir rapuh di tangan pemerintahan Trump.

Bagi Indonesia, siapa pun menjadi presiden Amerika tetap bersahabat. Karena negeri ini mengibarkan bendera politik luar negeri bebas aktif. Penguasa adidaya melihat Indonesia sebagai negara berwibawa karena bisa menjaga keutuhan serta menghormati komitmen pemimpin negara-negara di tingkat regional dan internasional.  ***

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait