#opini#nilaitukarrupiah#matauang

Menanti Pemerintah Pulihkan Rupiah

Menanti Pemerintah Pulihkan Rupiah
Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)


DALAM beberapa pekan terakhir, kita dibuat risau oleh pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebagai dampak dari penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Terdepresiasinya mata uang rupiah sempat berada pada titik terendah, yani Rp15 ribu/dolar selama 20 tahun terakhir pascakrisis 1998, seolah menjadi klimaks dari terus bergejolaknya mata uang kebanggaan bangsa Indonesia ini.

Sepanjang 2018, rupiah memang terus bergerak dengan tren yang semakin melemah. Berdasarkan data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI), rupiah sempat ada pada level Rp13.290 terhadap dolar sekaligus sebagai apresiasi yang paling tinggi sejak awal 2018.

Nilai tukar mata uang garuda mulai merangkak di atas Rp13.500, dari Rp13.600 hingga Rp13.700 pada akhir Februari dan awal Maret. Sempat menyentuh level Rp13.600, rupiah pun turun ke level Rp13.500, tetapi bertahap naik sampai Rp13.800 pada akhir April.

Selepas April dan memasuki Mei, rupiah ada di posisi Rp13.800—Rp13.900 kemudian merangsek tembus ke angka Rp14.036 dan naik tipis menjadi Rp14.074 pada kesempatan berikutnya. Di bulan Juni, rupiah sempat menembus Rp14.400 dan terus merambat naik hingga menyentuh angka Rp14.495 per dolar di Juli 2018.

Walaupun sempat beberapa kali menguat tipis, rupiah bertengger di level Rp14.700 pada penghujung Agustus 2018 sebelum terpuruk pada level terendah Rp15.029/dolar AS pada awal September 2018.

Faktor eksternal dalam hal ini selalu disebut-sebut pemerintah dan Bank Indonesia sebagai penyebab utama tren pelemahan rupiah. Sejumlah peristiwa ekonomi yang saling terkait seperti prediksi pasar untuk kenaikan suku bunga acuan The Fed dan kebijakan lain di Amerika Serikat serta janji dari Presiden Trump tentang tax cut diyakini menjadi pemicu meningkatnya permintaan dolar di pasar.

Tidak sedikit orang menjual kepemilikan di emerging market atau simpanan mereka dan menarik kembali ke AS. Faktor perang dagang AS dengan Tiongkok juga disebut-sebut membuat pasar cenderung mencari aset yang paling aman di tengah ketidakpastian kondisi global. Dolar sebagai mata uang dagang utama pun jadi pilihan, sehingga permintaan dolar pun meningkat.

Terlepas dari terus terdepresiasinya nilai tukar mata uang rupiah, memang sejauh ini perekonomian Indonesia tetap tumbuh berkesinambungan dan stabil. Kesinambungan pertumbuhan ekonomi kita tecermin dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Pada triwulan I-2018 terhadap triwulan I-2017 tumbuh 5,06% (y-on-y). Angka ini dinilai banyak kalangan tetap stabil dan kuat, dengan struktur ekonomi yang lebih baik, walaupun disinyalir sedikit meleset dari prediksi sebesar 5,18%—5,19%.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2018 merupakan pencapaian tertinggi di pola musiman triwulan I sejak 2015. Permintaan domestik yang meningkat pada triwulan I-2018 juga didukung investasi yang naik dan konsumsi swasta yang tetap kuat.

Sementara itu, kestabilan inflasi tetap terjaga pada level rendah sesuai target 3,5% plus minus 1%. Performa ekonomi Indonesia pada triwulan II-2018 sendiri bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya juga masih relatif baik. Terlihat ada peningkatan sebesar 4,21% (q-to-q) walaupun defisit neraca perdagangan luar negeri masih terus terjadi dan belum mampu dikonter kinerja ekspor.

Yang Telah Dilakukan?

Sebagai satu-satunya lembaga keuangan milik pemerintah yang independen dan pengemban amanah Pasal 23D UUD 1945 untuk menjaga tetap stabilnya nilai tukar rupiah, BI sejauh ini memang sudah mengambil langkah-langkah kebijakan moneter  untuk menjaga keyakinan pasar dan kestabilan makroekonomi nasional terkait pelemahan rupiah terhadap dolar.

Kebijakan yang telah dilakukan tersebut antara lain sebagai berikut. Pertama, memprioritaskan tercapainya stabilisasi mata uang rupiah dengan melakukan penyesuaian suku bunga melalui cara menaikkan suku bunga acuan sampai 100 basis poin. Kedua, melakukan intervensi di pasar valuta asing dan stabilisasi di pasar surat berharga negara (SBN). Ketiga, mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter valas dan rupiah termasuk membuka lelang Forex Swap untuk menjaga ketersediaan likuiditas rupiah dan menstabilkan suku bunga di pasar.

Langkah-langkah kebijakan moneter yang diambil BI itu tentu patut diapresiasi. Namun, seiring dengan semakin tertekannya nilai tukar rupiah, apa yang telah dilakukan tersebut perlu dipertanyakan. Apakah ketiga kebijakan itu sudah dilakukan BI secara tegas dan konsisten untuk mengembalikan rupiah ke level psikologisnya? Ataukah BI begitu percaya diri dan meyakini Indonesia akan berhasil melewati tekanan moneter ini dengan baik karena mereferensi pada data yang dirilis BPS tadi seolah so far so good?

Perlu Jurus Tambahan

Kalaupun kebijakan moneter BI tersebut sudah dilakukan tegas dan konsisten, rasa-rasanya belumlah cukup. Pemerintah harus bisa menjadikan tren melemahnya rupiah ini sebagai momentum untuk memacu ekspor yang akan menyedot masuknya devisa ke dalam negeri dan ini tentu menjadi tambahan pendapatan bagi negara.

Di sisi lain, saatnya pemerintah menunda proyek-proyek infrastruktur nonstrategis untuk mengurangi impor guna menekan jumlah devisa yang terbang ke luar negeri. Pemerintah juga perlu ditagih komitmennya atas kewajiban pencampuran bahan bakar nabati 20% untuk bahan bakar diesel (solar) yang tujuannya sama, mengurangi impor agar rupiah tidak semakin tertekan.

Memang kebijakan itu boleh saja dipandang sebagai kebijakan klasik. Namun, tentu lebih ditunggu masyarakat sebagai sebuah upaya konkret yang dilakukan pemerintah ketimbang hanya sibuk menjelaskan melemahnya rupiah terhadap dolar disebabkan permasalahan global, termasuk mengambinghitamkan perang dagang antara Tiongkok dan AS.

Penting untuk kita garis bawahi bahwa permasalahan global pasti akan selalu mengemuka sebagai konsekuensi dari ekonomi dunia yang semakin terbuka. Artinya, pemerintah tidak bisa sekadar menyampaikan alasan, tetapi harus mampu menyiapkan banyak strategi guna mengantisipasi datangnya badai krisis yang sewaktu-waktu bisa datang mengancam seperti yang sedang kita hadapi sekarang ini.

EDITOR

Nasrullah Arsyad/ Akademisi Umitra, ASN BPS Provinsi Lampung

loading...




Komentar


Berita Terkait