#Menag#Radikalisme

Menag: Jangan Mudah Melabeli Seseorang Radikal

Menag: Jangan Mudah Melabeli Seseorang Radikal
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. Medcom.id/Rofahan


Jakarta (Lampost.co) -- Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas meminta semua pihak tidak mudah memberikan label radikal kepada seseorang atau kelompok. Penyematan predikat negatif tanpa dukungan data dan fakta yang memadai berpotensi merugikan pihak lain.

"Kita harus (se)objektif mungkin dalam melihat persoalan, jangan sampai gegabah menilai seseorang radikal misalnya," kata Yaqut dalam keterangan tertulis, Minggu, 14 Februari 2021.

Yaqut menyebut stigma radikal muncul karena seseorang kurang memiliki informasi yang lengkap. Cap negatif juga terjadi karena sumbatan komunikasi.

Dia mengatakan pola komunikasi yang cair dan dua arah merupakan keniscayaan di era keterbukaan informasi saat ini. Klarifikasi penting ditekankan pada setiap diri seseorang.

"Dengan asumsi itu, maka klarifikasi atau tabayyun adalah menjadi hal yang tak boleh ditinggalkan dalam kerangka mendapat informasi valid," ujar Yaqut.

Melalui model tabayyun ini, kata Yaqut, hakikatnya seseorang atau kelompok akan terhindar dari berita palsu. Yaqut optimistis kekisruhan yang seringkali muncul dan merugikan bangsa bisa dicegah bila pola ini diterapkan.

Yaqut juga menyinggung pelaporan Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB (GAR ITB) terhadap dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin. Din dilaporkan ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dengan tuduhan radikal pada Oktober 2020.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta semua pihak tidak mudah mencap Din sebagai radikal. Semua pihak diminta mendudukkan persolan dengan proporsional.

"Persoalan disiplin, kode etik, dan kode perilaku ASN sudah ada ranahnya. Namun, jangan sampai kita secara mudah melabeli Pak Din radikal dan sebagainya," ucap Ya

EDITOR

Abdul Gafur

loading...




Komentar


Berita Terkait