#Covid-19Lampung#Vaksin#Refleksi

Memburu Vaksin

Memburu Vaksin
Ilustrasi. Vaksin Covid-19. Dok


VAKSIN Covid-19 memang benar-benar mahal dan barang langka. Mahal karena memang tidak dijual. Langka karena masih dalam proses uji klinis sehingga vaksin diprioritaskan bagi kalangan tertentu. Makanya diburu banyak orang. Namanya juga barang baru pasti menjadi barang mahal!

Temanku bertanya, apakah aku sudah divaksin Covid-19? Kujawab, belum. Sebab, memang prioritas pertama adalah kalangan penyelenggara negara dan tenaga kesehatan. “Boleh aku nebeng, Bang. Mau juga dong didaftarkan untuk mendapat vaksin,” kata temanku, Steven dalam suatu kesempatan setelah ada program vaksinasi awal 2021 di negeri ini.

Apalagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan menggratiskan vaksin untuk rakyatnya. Tapi kapan terlaksana? Yang jelas, anak- anak bangsa menunggu vaksin Merah Putih produksi Bio Farma. Temanku Steven lanjut bertanya, “Adakah vaksin mandiri nanti?” Kujawab, insya Allah ada, karena memang bagi rakyat yang mampu pasti memilih vaksin mandiri.

Kataku kepada Stven, pemerintah memutuskan penerima vaksin adalah orang yang membutuhkan—setelah tenaga kesehatan lalu tenaga pendidik baik guru maupun dosen yang menyelenggarakan tatap muka di kelas. Usai tenaga pendidik, lansia, wartawan, dan masyarakat yang berdagang di pasar tradisional menerima vaksin gratis.

Yang paling menyesakkan dada, ada sekelompok profesi menolak vaksin gratis. Padahal mereka adalah kelompok rentan karena bekerja di lapangan. Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka sanggup membiayai vaksin mandiri? Sementara penerima vaksin tadi termasuk tidak berkecukupan ekonomi. Inilah orang-orang asal ngomong!

Negeri ini dalam keadaan darurat kesehatan. Ingat itu, kawan! Pandemi Covid-19 tidak akan berakhir jika rakyatnya tidak divaksin. Itulah orang-orang yang menolak divaksin termasuk golongan kufur nikmat. Di sisi lain, ada orang yang minta divaksin agar tidak terpapar virus corona.

Dalam artikel Seto Mulyadi, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), berjudul Hak Anak untuk Menerima Vaksin Covid-19, Seto mengutip Timothy Callaghan dari Texas A&M School of Public Health bahwa terdapat tiga penjelasan psikologis atas hambatan vaksinasi.

Pertama, keyakinan bahwa pandemi tidak sungguh-sungguh ada, atau merupakan konspirasi dengan tujuan jahat. Kedua, ketakutan akan jarum suntik maupun efek samping dari vaksin. Ketiga, pandangan bahwa vaksinasi bertentangan dengan standar moral yang dianut masyarakat.

Kata Seto lagi, Indonesia perlu belajar dari kebijakan imunisasi di Amerika Serikat (AS). Di Negeri Paman Sam itu, pada dasarnya seluruh negara bagian memberlakukan kewajiban vaksinasi, dengan pengecualian bagi warga yang memiliki kondisi kesehatan khusus. Dari riset juga diketahui bahwa dispensasi yang diberikan negara itu akan berdampak makin rentannya rakyat terjangkit penyakit menular tersebut.

Bagi negeri ini tidak ada pengecualian karena negara selalu hadir untuk rakyat mendapatkan vaksin secara gratis. Ini kata Presiden Jokowi, Indonesia merupakan salah satu negara yang beruntung karena telah memiliki vaksin. Program dimulai awal tahun ini. Negeri ini menjadi negara pertama di ASEAN yang melaksanakan program tersebut. Luar biasa!

*

Memasifkan vaksin untuk rakyat adalah cita-cita negara mengembalikan kesehatan dan ekonomi kembali bangkit. Apalagi vaksinasi bagi guru atau pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) yang sudah dimulai dari ibu kota negara–DKI Jakarta. Nanti dilakukan provinsi lainnya di Indonesia.

Mengapa guru atau tenaga pendidik perlu divaksin? Sebab, anak-anak bangsa sudah lama libur (belajar di rumah). Takutnya, generasi ini akan kehilangan semangat belajar dengan tatap muka. Negara tidak boleh kalah dengan virus corona yang datang dari daratan Tiongkok 2019 lalu.

Maksud guru dan anak-anak perlu divaksin agar tahun ajaran baru segera dimulai. Selama pandemi, orang tua yang kesulitan mengajari anak untuk belajar jarak jauh. Peserta didik di jenjang PAUD, SD, dan SLB yang paling terdampak dari pandemi. Parahnya lagi, orang tua tidak cukup waktu dan terbatas ilmu pengetahuannya untuk memberikan pendampingan.

Perlu dipikirkan lagi, setelah guru dan lansia–peserta didiklah pada tingkatan PAUD, SD, dan SLB yang menjadi prioritas divaksin. Jadi, orang tua yang tidak memvaksin anaknya adalah bentuk pengabaian terhadap hak anak untuk tumbuh dan berkembang secara sehat.

Pengamat anak, Seto Mulyadi secara tegas menyatakan ketika kesehatan anak terganggu, hak-haknya yang lain pun berisiko terkesampingkan pula. Ini bentuk penelantaran orang tua terhadap anak. Bahkan, perlu dukungan kuat agar negara menjatuhkan sanksi kepada orang tua yang menolak vaksinasi terhadap anak-anak mereka.

Survei Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia mengungkapkan masih ada sekitar 41% warga enggan untuk divaksinasi. Harus ada strategi yang jitu untuk memberikan pemahaman kepada separuh jumlah warga di negeri ini, artinya manfaat besar dari program vaksinasi.

Dan wartawan adalah kelompok yang beruntung termasuk yang mendapat prioritas untuk divaksin. Ini sudah janji Presiden Jokowi ketika menghadiri acara puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2021, 9 Februari lalu.

“Sesuai dengan yang saya sampaikan pada saat Hari Pers Nasional bahwa kita ingin mendahulukan insan pers untuk divaksinasi. Alhamdulillah pada pagi hari ini sudah dimulai,” kata Presiden saat meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi jurnalis di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (25/2).

Vaksinasi bagi wartawan ini untuk memberikan perlindungan pekerja dalam menjalankan tugas kesehariannya. Mereka berada langsung di lapangan dan sering berinteraksi dengan narasumber. Awak media juga  sebagai garda terdepan mengedukasi rakyat bagaimana menekan pandemi agar tidak banyak menimbulkan korban jiwa.

Tidak hanya para jurnalis yang menerima vaksin gratis ini. Kelompok rentan lainnya juga akan menerima vaksin dari pemerintah. Harapannya program vaksinasi terus dilaksanakan, maka makin banyak rakyat terlindungi dari wabah virus corona. Jika vaksin tidak aman bagi tubuh, wartawanlah korban pertamanya. Rakyat tidak perlu takut untuk divaksin karena tidak menimbulkan efek samping.  *

EDITOR

Winarko

loading...




Komentar


Berita Terkait