#beritalampung#beritabandarlampung#humaniora#difabel

Membina Kaum Difabel Bersama Sahabat Difabel Lampung

Membina Kaum Difabel Bersama Sahabat Difabel Lampung
Sahabat Difabel Lampung (Sadila) saat berkunjung ke Radio Sai100FM. Lampost.co/Yudi Wijaya


Bandar Lampung (Lampost.co): Menyandang disabilitas tidak membuat langkah dan semangat anak-anak berhenti untuk terus berkarya. Sahabat Difabel Lampung (Sadila) merupakan komunitas yang bergerak di bidang sosial, khususnya penyandang disabilitas di Provinsi Lampung.

Secara khusus Radio Sai100FM mengajak komunitas Sahabat Difabel Lampung (Sadila) berbincang dalam talkshow di studio radio Gedung Lampung Post, Jalan Soekarno-Hatta, Nomor 108 Rajabasa, Bandar Lampung, Sabtu, 3 Desember 2022. Dipandu oleh host Uni Windy, talkshow menghadirkan Irfan Irsyad humas Sahabat Difabel Lampung dan Devi Novitasari edukator Sahabat Difabel Lampung.

"Sahabat difabel sendiri adalah sebuah organisasi yang nondisabilitas, tapi memiliki fokus isu kepada disabilitas, terutama di bidang kesetaraan, pendidikan, terapi wicara, perilaku, dan be happier-nya. Kita sudah berjalan dari tahun 2018 hingga sekarang," kata Irfan, membuka perbincangan.

Dia mengatakan sudah ada 60 anak disabilitas yang tergabung dalam Sadila. Sementara nondisabilitasnya kurang lebih ada 23 orang. "Untuk fokusnya kita ada di Bandar Lampung. Tetapi kita ada beberapa organisasi yang di luar Bandar Lampung seperti di Kotabumi (Lampung Utara) dan Pringsewu," ujarnya.

Dia mengangungkapkan berawal dari kumpulan remaja yang memiliki ketertarikan mempelajari bahasa isyarat melalui Gerpatin (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia), Komunitas Sadila resmi dibentuk 23 November 2018.

Baca juga: Tokoh Lintas Agama Sukseskan MTQ di Mesuji

"Lalu kita membuat sebuah wadah yang kita sebut Sahabat Difabel Lampung (Sadila). Harapannya, mampu merangkul kaum difabel di Provinsi Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung," kata dia.

Menurutnya, para semua kaum difabel harus mendapat perhatian. Seperti tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, tuna wicara, tuna laras, dan yang lainnya. "Disabilitas dan difabel itu hanya beda sudut pandang awalnya kata disabilitas itu diserap dari sebuah jurnal internasional yang judulnya terminologi of disabiliti in Indonesia itu menggantikan kata cacat pada tahun 1945. Lalu pada 1996 kata disabilitas itu masuk ke dalam undang-undang menggantikan kata cacat itu tadi," katanya.

Sementara itu, Devi Novitasari mengatakan sebelumnya dia belum tahu apa itu disabilitas atau pun anak berkebutuhan khusus. Tetapi beberapa orang atau tetangga di lingkungan itu ada yang sering mendapatkan notice. 

"Sebelumnya belum tahu dan akhirnya kenal dengan sebuah instansi yang bernama SLB (sekolah luar biasa). Dari situ baru mulai seperti tertarik. Sepertinya disini menyenangkan ketika kita bisa menjadi seseorang yang berguna untuk anak-anak istimewa seperti mereka," kata dia.

Dari ketertarikan tersebut, lanjutnya, dia ingin bergabung ke dalam komunitas Sadila dan ingin belajar bersama, mencari ilmu bersama serta berkembang bersama. "Tentunya bisa berguna untuk teman-teman kita yang disabilitas ini," kata dia.

EDITOR

Adi Sunaryo


loading...



Komentar


Berita Terkait